Pada Pohon-pohon Tannen
Y. Nindito A.
(Pertama)
Ah, betapa indah di jauh negeri orang ini
Menembus di lembah sungguh hijau
Jalan-jalan masih ‘kan berliku
Gunung-gunung kelilingi nuansaku
Dari curam lereng-lereng
Bala pasukan pohon cemara
mengepung seluruh pandangku
Cemara bahasaku,
beribu lagi bahasa mereka.
Tannen, salah satunya,
yang kukenal dan kudengar
Itulah kawanan mereka
(Kedua)
Kulihat kau hijau kini,
dan pasti kau tetap hijau nanti
Sungguh hijaumu di panasnya musim,
Sungguh hijaumu di seminya musim
Dan tetaplah sungguh hijaumu
di gugurnya, dinginnya musim
saat semuanya di sekelilingmu
layu berguguran lalu berselimut putih
Hanya kulihat hijaumu kini,
belum lagi kupandang hijaumu nanti
saat layu dan putih salju peluk semestamu
Namun, itulah dirimu,
daun-daunmu sungguh setia
bertaut pada jemari-jemarimu
senada nafas jiwamu
(Ketiga)
Hijaumu kekal, selalu
Daun-daunmu abadi, senantiasa
seakan itulah suatu yang terbesar, Cinta,
karunia terindah dari Yang Maha Kuasa
untuk segenap kehidupan
Pohon-pohon Tannen, penghiburanku
pada kalbu ini yang meradang lara
merindu dia, sang pujaan hati
Namun laranya sirna, oleh senyum percaya
pada Cinta, yang takkan terhapuskan
Kekal hijaumu, abadi daunmu
seperti itu cintaku padanya,
Bidadariku, Dewiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar