Minggu, 26 Juni 2016

MAKALAH RAGAM BAHASA INDONESIA

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan makalah demokrasi dapat terselesaikan dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini kami buat dengan tujuan untuk membahas mengenai “RAGAM BAHASA INDONESIA”
Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan harapan dapat membantu pembaca untuk lebih memahami lagi tentang demokrasi yang ada di Negara Indonesia ini untuk memperlancar proses pembelajaran.
Namun demikian tentu saja dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan dan pemilihan kata yang kurang tepat. Dengan ini, kami memohon maaf jika dalam pembuatan makalah ini banyak kekurangan.Harapan saya semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Wa’alaikumsalam Wr.Wb.



Jakarta, 26 Juni 2016



Penulis


DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi                                                                                 
BAB I PENDAHULUAN           
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Ragam Bahasa
B. Macam-macam Ragam Bahasa
1. Ragam Bahasa Berdasarkan Media
a. Ragam Bahasa Media (Lisan)
b. Ragam Tulis
2. Ragam bahasa Indonesia dari penutur
3. Ragam bahasa Indoneisa menurut topik pembicaraan
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Bahasa indonesia perlu dipelajari oleh semua lapisan masyrakat. Tidak hanya pelajar dan mahasiswa saja, tetapi semua warga Indonesia wajib mempelajari bahasa Indonesia. Dalam bahasan bahasa Indonesia itu ada yang disebut ragam bahasa. Dimana ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda. Ada ragam bahasa lisan dan ada ragam bahasa tulisan. Disini yang lebih lebih ditekankan adalah ragam bahasa lisan , karena lebih banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan ngobrol, puisi, pidato, ceramah, dll. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang  pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
B.     Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
Pengertian ragam bahasa.
Macam-macam ragam bahasa.
Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media.
Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur.
Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topik pembicaraan.
C.    Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui pengertian ragam bahasa.
2.      Mengetahui macam-macam ragam bahasa.
3.      Mengetahui Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media.
4.      Mengetahui Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur.
5.      Mengetahui Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan topic pembicaraan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Ragam Bahasa
Ragam bahasa adalah  variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara.
Pengertian ragam bahasa menurut para ahli adalah:
1. Pengertian ragam bahasa menurut Bachman
    Menurut Bachman (1990), “ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara.”
2. Pengertian ragam bahasa menurut Dendy Sugono
    Menurut Dendy Sugono (1999), “bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.”
3. Pengertian ragam bahasa menurut Fishman ed
    Menurut Fishman ed (1968), suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan.
B.      Macam-macam Ragam Bahasa
Yaitu bisa dibagi 3 berdasarkan media,cara pandang penutur, dan topik pembicaraan.
1. Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media
a.   Ragam bahasa Media (Lisan)
Bahasa yang di hasilkan menggunakan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan. Dalam ragam lisan kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.
v  Ciri-ciri ragam lisan:
         Memerlukan orang kedua/teman bicara.
         Tergantung kondisi, ruang, dan waktu.
         Tidak harus memperhatikan gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
         Berlangsung cepat
v  Kelebihan ragam bahasa lisan :
a. Dapat disesuaikan dengan situasi
b. Faktor efisiensi waktu
c. Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsure lain berupa tekan dan
gerak anggota badan agah pendengar mengerti apa yang dikatakan seperti situasi,
mimik dan gerak-gerak pembicara.
d. Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa
yang dibicarakannya.
e. Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas pengertian
bahasa yang dituturkan oleh penutur.
f. Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari
informasi audit, visual dan kognitif.
v  Kelemahan ragam bahasa lisan :
a. Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frase-
frase sederhana.
b. Penutur sering mengulangi beberapa kalimat.
c. Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan.
d. Aturan-aturan bahasa yang dilakukan tidak formal.

b.      Ragam Tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan
dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan
tata cara penulisan dan kosakata. Dengan kata lain dengan ragam bahasa tulis, kita
tuntut adanya kelengkapan unsur kata seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat,
ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
v  Ciri-ciri ragam tulis:
1.      Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara
2.      Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu
3.      Harus memperhatikan unsur gramatikal;
4.      Berlangsung lambat
5.      Selalu memakai alat bantu
6.      Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi
7.     Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan  tanda baca.
v  Kelebihan ragam bahasa tulis :
a. Informasi yang disajikan bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau materi
yang menarik dan menyenangkan.
b. Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.
c. Sebagai sarana memperkaya kosakata.
d. Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau
mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu mencanggihkan wawasan
pembaca.
v  Kelemahan ragam bahasa tulis :
a. Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada
akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.
b. Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus
mengikuti kaidah-kaidah bahasa.
c. Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong, oleh karena
itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar.         

v  Perbedaan antara ragam lisan dan tulisan (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata ):
A. Tata Bahasa :
a.       Ragam Bahasa lisan
1)      Nia sedang baca surat kabar.
2)      Ari mau nulis surat.
3)      Tapi kau tak boleh menolak lamaran itu.
b.      Ragam bahasa tulisan.
1)         Nia sedang membaca surat kabar.
2)         Ari mau menulis surat.
3)         Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.

B. Kosa kata :
a.       Ragam bahasa lisan
1)    Ariani bilang kalau kita harus belajar.
2)    Kita harus bikin karya tulis.
3)    Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak
b.      Ragam bahasa tulisan
1)    Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar.
2)    Kita harus membuat karya tulis.
3)    Rasanya masih telalu muda bagi saya, Pak.

2.      Ragam bahasa Indonesia berdasarkan penutur.
Ragam Bahasa Berdasarkan penutur yaitu :
1.      Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek).
Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa  digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memilikiciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan/b/pada posisi awal saat melafalkan nama-nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dll. Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dll.
2.      Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur.
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
contoh:
1)      Ira mau nulis surat = Ira mau menulis surat
2)    Saya akan ceritakan tentang Kancil = Saya akan menceritakan tentang Kancil.
3.      Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur. Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Contoh:
Ragam resmi        : “Saya sudah membaca buku itu”
Ragam tak resmi  : “Saya sudah baca buku itu”

3.      Ragam bahasa Indonesia menurut topik pembicaraan.
Berdasarkan topik pembicaraan, ragam bahasa terdiri dari ragam bahasa ilmiah, ragam hukum, ragam bisnis, ragam agama, ragam sosial, ragam kedokteran dan ragam sastra.
Contoh:
Ragam hukum     : Dia dihukum karena melakukan tindak pidana.
Ragam bisnis       : Setiap pembelian diatas nilai tertentu akan diberikan diskon.
Ragam sastra       : Cerita itu menggunakan Flashback.
Ragam kedokteran: Anak itu menderita penyakit kuorsior.
Menurut Anton M. Moeliono (dalam Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia,1980), berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sebaliknya, mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.
Ada lima laras bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut.
1. Ragam baku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan.
2. Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
3. Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar.
4. Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
5. Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.
Contoh Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar :
Misalkan dalam pertanyaan sehari-hari dengan menggunakan bahasa yang baku
Contoh :
* Ketika dalam dialog antara seorang Guru dengan seorang murid
Pak guru : Rino apakah kamu sudah mengerjakan PR?
Rino : sudah saya kerjakan pak.
Pak guru : baiklah kalau begitu, segera dikumpulkan.
Rino : Terima kasih Pak , akan segera saya kumpulkan.

  
BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, orang yang dibicarakan, serta menurut media pembicaraan. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan tulisan.
Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan ejaan bahasa yang telah disempurnakan (EYD), sedangkan ragam bahasa lisan diharapkan para warga Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa dengan baik serta bertutur kata sopan sebagai pedoman yang ada.

Saran
Sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya kita semua mempelajari ragam bahasa yang kita miliki, kemudian mempelajari dan mengambil hal-hal yang baik, yang dapat kita amalkan dan kita pakai untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca dan menambah pengetahuan dan wawasan anda. Mohon maaf jika dalam penyusunan terdapat banyak kekeliruan penulis mohon maaf. Untuk kritik dan saran dari pembaca penulis harapkan karena itu menjadi acuan untuk penulis agar membuat makalah menjadi lebih baik lagi, Sekian dan terimakasih.


Daftar Pustaka

1.      http://tisnajelek.blogspot.com/2013/10/pentingnya-berbahasa-yang-baik-dan.html
2.      http://rifqybawazier.blogspot.com/2013/10/ragam-bahasa-dan-pentingnya-
menggunakan.html
3.      http://id.wikipedia.org/wiki/Ragam_bahasa
4.      http://naufal101110.blogspot.com/2013/10/artikel-ragam-bahasa-indonesia.html Diposkan oleh Candra Rosdianto di 23.31
5.      http://sekapursirihpunya.blogspot.com/2013/05/contoh-makalah-ragam-bahasa.html
6.      http://www.trigonalworld.com/2013/07/pengertian-ragam-bahasa-menurut-para.html

Minggu, 05 Juni 2016

PADA POHON-POHON TANNEN

Pada Pohon-pohon Tannen

Y. Nindito A.

(Pertama)

Ah, betapa indah di jauh negeri orang ini
Menembus di lembah sungguh hijau
Jalan-jalan masih ‘kan berliku
Gunung-gunung kelilingi nuansaku
Dari curam lereng-lereng
Bala pasukan pohon cemara
mengepung seluruh pandangku

Cemara bahasaku,
beribu lagi bahasa mereka.
Tannen, salah satunya,
yang kukenal dan kudengar
Itulah kawanan mereka

(Kedua)

Kulihat kau hijau kini,
dan pasti kau tetap hijau nanti
Sungguh hijaumu di panasnya musim,
Sungguh hijaumu di seminya musim
Dan tetaplah sungguh hijaumu
di gugurnya, dinginnya musim
saat semuanya di sekelilingmu
layu berguguran lalu berselimut putih

Hanya kulihat hijaumu kini,
belum lagi kupandang hijaumu nanti
saat layu dan putih salju peluk semestamu
Namun, itulah dirimu,
daun-daunmu sungguh setia
bertaut pada jemari-jemarimu
senada nafas jiwamu

(Ketiga)

Hijaumu kekal, selalu
Daun-daunmu abadi, senantiasa
seakan itulah suatu yang terbesar, Cinta,
karunia terindah dari Yang Maha Kuasa
untuk segenap kehidupan

Pohon-pohon Tannen, penghiburanku
pada kalbu ini yang meradang lara
merindu dia, sang pujaan hati
Namun laranya sirna, oleh senyum percaya
pada Cinta, yang takkan terhapuskan

Kekal hijaumu, abadi daunmu
seperti itu cintaku padanya,
Bidadariku, Dewiku

TERANG MALAM

Hanya sesekali, berapalah pernah waktu saja
Ku saksikan ini semua, kembali
Ketika diri lagi sendiri
Menyepi, cari arti

Berkilauan bayang-bayang sinaran
Terpantul di hamparan genting, di atas sana
Telah tergores olehnya
Tengah berkaca, rembulan manis dikuas keanggunan

Disita dariku, tatap mata
Bersama kegalauan dan redup hati

Terang malam ini
Bawa jutaan lukisan keindahan
Saat ku di sini, terdampar di tengahnya ibukota nan ramai
Atau jua di sana, di seberangnya lautan, jauh di pulau
Hanya kamu, Dewi yang teramat dicinta
Ada di hati, benak, sanubari

Dan kupergi
Kembali ke pelukan lamunan

SAJAK KELENTENG

Aku ingat saat-saat
Ketika ku lewati gang di depan kelenteng itu

Merahnya membara seperti gairahku
Dan lilin-lilin, entah sekian banyaknya,
menyala teduh
seperti cinta dalam hati ini

Mereka menghalau gulita yang menerpa masa
Dan ku titipkan rindu yang tak mengenal cakrawala
Pada asap-asap dupa sembahyangan
Pergi melayang ke atas langit
Menghadap dewa-dewi yang tak sabar menumpahkan berkah
Dan Sang Maha Tinggi yang penuh cinta

BUNDA

Bunda, tiada gerbang kehidupan ku sambangi
selain hanya dikau antarkanku

Bunda, tiada ku masuki,
tiada ku diami negeri kasih sayang
selain dikau yang hunjukkannya padaku

Bunda, sang belahan jiwaku
Tiada kata lain mampu ku ucap
Selain terima kasih
dan dalamnya bait-bait rasa sayang

Bunda, aku mencintaimu

SAJAK PERMINTAAN

Bisakah kamu ada di situ
tanpa harus menyilaukan aku?

Bisakah kamu ada dan tiada,
tanpa menyisakan pesona,
yang selalu menelisik relung raga pula jiwa,
kalbu juga rasa,
sedikitpun?

Sebab kamu, ada maupun tiada,
Ialah kamu yang menorehkan segala pesona,
Terukir manis melampaui segala masa

Bisakah kamu dan hadirmu di saat ini
tak lagi memalingkan dunia dan semestaku?

Kau selalu begitu!

TAHUN INI DAN KAMU

Tahun ini t’lah menjadi saksi
dari kelanjutan masa-masa yang berkejaran
Kau itu, dibenci dan disangkal

Namun,
Kau dirindu, dinanti
Kau begitu dikagumi
Kau teramat dicintai
Dan jadi inspirasi, di sepanjang jalan ini

Itulah kamu, di hadapanku

TANDA BACA

Kumengenal tanda-tanda,
yang lagi terbaca makna
Koma dan titik,
ialah makna jeda dan akhir

Namun mereka tiada arti lagi di hadapanmu,
tiada makna lagi dalam cerita dan kisah,
tentang dirimu yang manis dan penuh pesona itu

Keindahanmu tidak mengenal koma lagi titik

PENYANGKALAN

Penyangkalan ialah bunyi sangkakala yang memekakkan telinga,
simfoni huru-hara yang membuat segala indera,
tuli dan mati rasa

Penyangkalan ialah bait-bait penuh nista,
siksa nurani yang teramat merana

Lihatlah, aku menjawab rasa yang begitu dalam ini
dengan apa yang namanya penyangkalan,
dan aku pun bergelar kepalsuan,
bernyawa mayat

Aku menyangkal kamu dan arti dirimu
berdetik, berhari, berbulan,
dan aku berhantu kepalsuan

Aku menyangkalmu lagi bermasa-masa
dan aku bermahkotakan kepedihan,
bertahtakan luka-luka

Merana rasanya, bukan?

AKU INGIN CEPAT PULANG

Aku ingin cepat pulang
mengerjakan semuanya,
menyelesaikan segalanya
yang telah menanti di depan mata

Aku ingin cepat pulang,
sebab aku belum apa-apa, bukan apa-apa,
cuma eksil dari masa-masa

Aku ingin cepat pulang,
kerjakan semuanya
Sebab di situlah ku dapat jumpa kamu,
bidadariku, inspirasiku,
dalam angan-angan

SEKILAS HARI-HARI

Inilah kilas-kilas yang dituliskan kehidupan
dalam lembar hari-harinya:

Hari kemarin ialah cerita,
hari ini adalah realita
Sedangkan hari esok ialah rahasia

PUJAANKU

Matamu bagai benderang bintang di malam terang
Pipimu seakan gemas lembut kapas putih awan
Wajahmu, seperti dalam cerita mimpi saja
Tak pernah ku jumpa sebelumnya,
ataukah pernah pada satu masa?

Suaramu seperti sang terang menembus kegelapan
Dan terang itu pula, cerah wajahmu

Itulah kamu, pujaanku

SENYUMANMU

Senyumanmu, Dewi
adalah kuntum mawar merah memikat hati,
karangan bunga mawar bagi sanubari

Dan duri-durinya tiada
oleh musim semi yang tiada henti

SAAT JUMPA KAMU LAGI

Masa berlalu begitu cepatnya
Bawa aku sampai di sini,
semua tentang kamu lagi
Ku menanti dalam sepi,
tentang saat itu kembali

Tak’kan terduga
Sungguh tak pernah terduga
Saat itu datang kembali
Tanpa aku dapat ingkari

Dan ada kamu
Sungguh teramat dirindu
Ada dirimu
Begitu dicinta dan dipuja
Tak bisa ku berpaling
Sungguh tak dapat ku mengelak

Itulah kamu
Cantikmu manismu
Tiada yang kuasa
Untuk ungkap semuanya itu
Selain ada kamu saja

Waktu yang terlalu singkat, ‘tuk satu karunia terbesar

Cukuplah sekejap sinaran waktu
Kelap bintang di langit musim terindah
Kamu menyapa dan berlalu
Dalam segenap keindahanmu

Aku hanya mengutip sebait senyum
Lalu melangkah pergi,
meniti dalam degup detik
Kembali kulewatkan,
belas kasih dari sang waktu

Sampai ada yang terlupa
Satu pujian untukmu
Jauh lampaui semesta kata
Entah kapan mampu terungkap

Dan kamu cantik, sangat cantik

PADA BINTANG-BINTANG

Oh, bintang-bintang,
jauh di langit sana
Dengan kelap senyumanmu
akan dunia yang tiada lagi gelap,
senja yang menggegap ramai,
tidakkah matamu yang merona,
memandang jauh ke sini,
bangunkan damai di hati berselimut lara?

Oh, bintang-bintang,
jauh di langit sana
Di dalam luas negerimu,
adakah yang bermimpi senantiasa,
untuk kehidupan penuh angan berakejaran?
Apakah di balik mentari yang temani hari,
gembira dan bahagia,
sedih dan pedih perih juga kisah pilu
pun lukis pelangi rasa di seisi kalbu?

Oh, bintang-bintang, tinggi di jauh sana!
Apakah kau ‘kan limpahkan terangmu
dari balik mahligai indahmu,
pada akhir waktuku?
Maukah suatu hari nanti,
di padang rumput berkilauan hijau dan emas,
damai yang tak’kan pernah beku
turun bagai embun pagi
menyapa segenap lelah jiwaku?

Oh, bintang-bintang, tinggi jauh di sana!
Sebelum jiwaku punya sayap,
melayang masuk dalam damaimu,
Kerinduanku senantiasa berpeluk padamu,
dengan penuh harapan, penuh keyakinan ini!
Oh, kamu yang sungguh indah adanya
Mungkinkah kau ingkari semuanya?

MEMANDANG HUJAN

Duduk sendiri tiada bosan
Saat memandang ramai hujan
Sekalipun lara penat tak tertahan
Sergap seisi benak, seisi jiwa
Namun tak ingin ku beranjak, dari sini

Ku rasa ia belum kan henti
Langit kelam, awan hitam belum lagi pergi
Rintik Gemericik bisikkan syahdu
Masih ingin meramai nuansaku

Inginku ‘nuju semua itu
Kesegaran hidup
Penghiburan tak kunjung putus
Sukacita yang tak henti berpendar

Aku menyatu dalam nuansa
Masa di mana ku pernah bersandar

Aku menyatu dengan segala
Bahagia mereka di luar sana
Daun-daun t’lah lagi bersuka
Tinggalkan kilau jejak basuhnya

Itulah aku saat ini
Seakan segar daun-daun
Merindu nyanyian hujan
Seperti itulah aku
Merindukan kamu
Dirimu, anggunmu, cantikmu

BAYANG HUJAN

Hujan turun
Namun hujan tak tampak
Ia hanya bayang dalam langit sepi
Tirai di cakrawala sunyi

Hujan malu-malu
Sapa aku dalam haru
Tak berbekas, tak tercerap
Sirna dari lamunan rona

Mereka tak lagi dikenal
Kecil-kecil tak berasa, tak terlacak
Namun meruntuh ia dari nuansa
Tak terbilang rinainya

Tahukah kamu
Seakan itulah, rinduku akan kamu

WANITA

Wanita
Engkau begitu lincah,
Bagai helai sang putih merpati
Begitu halus, begitu lembut, mungil suci
Terbang melayang, berkelana bersama angin
Entah di mana ia tersampai

Begitu pula dirimu
Tiada satu pun yang dapat tahu
Dalam benakmu, dalam hatimu, entahlah
Selain hanya kamu seorang

Wajahmu sungguh cantik, teramat manis
Di balik lembayung candamu
Di bawahnya derai pedihmu
Lembut, manis, dan cantik selalu dalam indahmu
Dan kau selalu sembunyi di situ

Rona matamu penuh sinaran kasih
Runtuhkan segala mahkota keangkuhan
Tiada lagi yang mampu berpaling
Siapapun t‘lah yakinkan setiap hatinya
Hanya kamulah yang sungguh tersayang

Siapalah belum pernah rasakan
semua sungguh rasa bahagia itu
Belumlah berarti ia reguk cawan anggur
Dari pesta perjamuan terindah semesta

EMBUN

Embun pagi buta meniti turun ke pangkuan pertiwi
Ia sampaikan segala salam sapanya padaku
Di dalam pelukan sunyi dan indahnya
Seakan itu semua tempat terindah ku bersamdar
Pada semua keindahanmu, oh kasih

Embun
Merangkai kata-kata pujaan yang tak bersua dengan koda
Memeluk haru yang senatiasa berkawan dengan rindu
Melukis warna yang tak pernah dikisahkan pelangi
Memelihara adanya taman bunga di hati ini
yang tak pernah kenal musimnya

CANTIK

Ia ada dalam sunyi
Saat tiada lagi terucap kata

Ia ada dalam diam
Itu telah cukupkan segalanya
Nyalakan lilin-lilin pesona

Ia ada dalam tenang
Mengalir sungai kasih cinta
Dari mata air kehidupan

Ia ada dalam nada-nada
Saat semua tanda-tanda
Tiada lagi mampu ungkap makna

Cantik
Ada dalam cinta

HUJAN

Hujan
Merintik terus
Merinai di atas kepala
Menetes di kening

Biarkan ia terus
Menembus ke benak
Meresap di kalbu
Hingga jadi embun pagi rindu

KUINGIN DAPAT

Kuingin dapat ungkapkan, segala amarah
Kuingin dapat sampaikan, segala ingin
Kuingin dapat katakan, segala pinta
Kuingin dapat teriakkan, segala emosi jiwa

Namun ku tak dapat lakukan segalanya
Karena ku hanya sendiri di sini,
seorang diri

Hari ini belum menjemput masanya
Langit belum ada lagi bintang
Kilau senja yang ‘kan menjelang, ia takkan ada,
bila mendung masih kian meraja

Harus kukatakan lagi pada siapa
selagi Yang Kuasa telah tahu segalanya
Kusadari akhirnya saat ini
Segenap diri telah berkawan sunyi

Hanya diri ini yang ada
membias bening sanubarinya
tak mau padam membara jiwanya
tak ingin berjumpa dengan matinya

Juga diam hanya yang ada
bersama angin menjemput segala rasa
bawa mereka pergi melayang jauh
hingga perahu lara tak lagi mampu bersauh

DOA MALAMKU UNTUKMU

Selamat Malam, cantik
Tidurlah nyenyak,
bermimpilah dalam segala lembutmu,
oh kamu yang termanis

Dalam suara berpadu merdu
beribu malaikat turun dari surga
seakan itulah dirimu, putri yang cantik
Kaulah bidadari yang t’lah turun dari sana

Suatu lagu terindah ’kan membelai rona alismu,
sentuh merah bibirmu, rengkuh gemas pipimu

Uluran tangan dari Sang Tuhan
‘kan mendekapmu, menjagamu
meniti negeri-negeri penuh emas dan putih awan
jauh tinggi di langit sana

Bermimpilah indah,
Lesatkan panah-panah anganmu,
duhai sayangku, manisku
Biarkanlah mereka temanimu,
tunjukkan jalan lurusmu

Pejamkanlah matamu saja
Dengarlah para malaikat kecil,
padukan suara semesta

Tidurlah, mimpilah dalam segala lembutmu,
oh, peri kecilku, malaikat hatiku
Semoga suatu saat nanti, kau berkenan
rebahkan sandarmu di hatiku, dalam pelukanku

Doaku selalu besertamu
Selamat tidur

WAJAH NEGERIKU

Setelah 69 tahun kemerdekaan Indonesia yang kita cintai ini sepertinya negeri ini masih belum pada posisi yang dicita-citakan para pejuang kemerdekaan.  selama 69 tahun tersebut Negeri ini mengalami berbagai peristiwa pasang surutnya perjalanan sebagai sebuah proses untuk menuju Bangsa yang besar dan peristiwa-peristiwa tersebut menjadi sejarah mengisi lembaran-lembaran yang tidak akan penuh oleh coretan tinta layaknya sebuah buku cerita berepisode.

Setiap cerita selalu dihiasi dengan warna yang mana warna tersebut ada terang, kelam, putih, hitam dan berjuta-juta warna yang tak mampu tuk kutulis..jika saja boleh negara diilustrasikan kedalam cerita yang memiliki banyak warna pastilah bangsa ini telah melewati masa kelam dan hitamnya sebuah proses berdirinya negara ini, lantas warna apakah yang menghiasi indonesia saat ini? tidak ada warna yang tepat untuk menggambarkan keadaan saat ini.

Indonesia yang selalu kita dengar sebagai negara yang  melimpah sumber daya alamnya, kaya akan keanekaragaman budayanya, santun dalam etika masyarakatnya dan masih banyak lagi kata-kata indah sebagai gambaran dari bangsa ini. Pertanyaan terbesarnya adalah, sudah adakah keserasian dengan apa yang terjadi saat ini???

Dimana - mana terjadi banjir dan bencana alam sebagai hasil dari buah tangan kita sendiri, kemiskinan masih sebagai selimut berjuta-juta rakyat indonesia, pendidikan masih menjadi sesuatu yang bernilai mahal harganya, krisis moral dan kepercayaan merebak bak jamur yang tumbuh dimusim penghujan, tindakan anarkis kerap menjadi pilihan dalam mengatasi masalah yang sebenarnya semuanya memiliki payung hukum, pelaku korupsi tumbuh pesat seolah-seolah menjadi trend yang sangat sayang jika tidak diikuti, pengangguran masih menjadi permasalahan klasik yang belum terselesaikan sebagai efek dari tidak berimbangnya antara  jumlah penduduk dengan tersedianya lahan kerja dan menjadi TKI ilegal MUNGKIN adalah pilihan "cerdas" yang tidak berkualitas ditengah-tengah rumitnya sebuah birokrasi dan minimnya pilihan untuk dapat hidup dengan layak, sekalipun berita-berita menyesakkan tentang nasib TKI masih menghiasi di berbagai media.

Layaknya wajah kelam dari seorang bidadari yang terkungkung dalam istana yang megah yang tertulis di dalam sebuah cerita-cerita dongeng, mungkin seperti itulah wajah negeri ini..kapan pena ini memihak kita untuk  kau tuliskan keindahan dan mengakhiri penderitaan sang bidadari? sayangnya kita tidak hidup di negeri dongeng yang dengan mudah mengubah alur cerita, namun kita hidup di dunia nyata dimana proses panjang adalah sebuah keharusan, untuk mengubah paragrap demi paragrap cerita kehidupan.

Jumat, 03 Juni 2016

RESENSI BUKU JAGO BERMAIN PIANO KLASIK

*  Judul Buku     : Jago Bermain Piano Klasik
*  Pengarang      : Adi Jarot
*  Editor             : Munnal Hani’ah
*  Tahun Terbit   : 2010 (cetakan pertama)
*  ISBN              : 978-602-95-5928-6
*  Tebal Buku     : 185 halaman
*  Harga Buku    : Rp28.000,00
              Piano merupakan instrumen yang bagus untuk dipelajari sejak kecil. Sebab, dengan bermain piano dapat melatih fungsi otak kanan dan otak kiri, serta melatih koordinasi kedua tangan dan kaki. Pada masa kanak-kanak sangat dianjurkan untuk belajar bermain piano lantaran dapat melatih kecerdasan otak. Melalui bukunya, Adi Jarot mengupas tentang pengenalan dan pengembangan permainan tangan kanan dan tangan kiri dalam bermain piano klasik. Pada bukunya berisi tentang teori teori praktis dan lagu-lagu klasik yang sesuai dengan notasi yang sudah ada. Terdapat pula penerapan nada-nada pada tuts piano. Adi Jarot juga menulis buku bertemakan musik, seperti : Cangih Main Gitar Elektrik, Pintar Main Gitar, Tips Menjadikan Kamar Sebagai Ruang Studio, dsb.
              Dengan menbaca buku ini, diharapkan dapat membantu belajar piano klasik sekaligus mengasah bagi yang sudah mempelajarinya serta dengan belajar piano dapat melatih fungsi otak kanan dan otak kiri. Berlatih dengan buku juga merupakan alternative untuk belajar piano selain dengan kursus yang relatif mahal.
              Buku Jago Bermain Piano Klasik ini terbagi atas dua bab yang diikuti beberapa sub bab. Pada setiap babnya diawali dengan pendahuluan yang berfungsi sebagai pengenalan bab yang akan dipelajari. Bab-bab tersebut di antaranya
Bab 1 : Fakta dalam Belajar Bermain Piano
A.   Belajar Piano Klasik atau Pop?
B.   Pada Usia Berapa Sebaiknya Belajar Bermain Piano?
C.   Bagaimanakah Cara Menghilangkan Kebosanan dalam Belajar Bermain Piano?
D.   Apa Akibatnya Bila Terlambat Belajar Bermain Piano?
Bab 2 : Metode Pembelajaran dalam Bermain Piano
A.   Teori Dasar Musik
B.   Penjarian
C.   Permainan Tangan Kiri dan Kanan
D.   Pengetahuan Tentang Piano
E.   Latihan Memainkan Lagu
Buku ini sangat cocok bagi pemula ataupun yang ingin mengasah kemampuan dalam bermain piano. Selain menyajikan lagu-lagu klasik sebagai ajang latihan, di dalam buku ini juga menyajikan lagu-lagu hits yang dilengkapi dengan notasinya sehingga mudah dimainkan sebagai latihan praktik. Semua teori dasar dan pengembangan permainan piano dikemas dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami, sekalipun untuk pemula. Tabel dan gambar ilustrasi memudahkan pembaca untuk memahami isi buku, hanya saja jumlahnya yang relatif sedikit. Kesalahan cetak pada buku juga relative sedikit, hanya terdapat beberapa pengejaan yang salah dan tidak sampai mengubah maksut dari materi yang disampaikan. Namun, ada juga beberapa hal yang menyebabkan buku ini terkesan monoton dan membosankan, seperti buka yang hanya berwarna hitam dan putih  serta uraian yang sebenarnya kurang perlu. Lepas dari itu semua, buku ini dapat membantu pembaca untuk belajar piano dengan praktis dan mudah.