2 tahun lebih aku menjalani asmaraku dengan orang yang sangat aku sayangi kita melalui hari-hari yang indah bahkan aku menjadi tempat bersandar di saat dia terpuruk rapuh. Dia begitu sabar, pengertian, tanggung jawab, pekerja keras, perhatian, dan semua hal baik ada pada dirinya dia adalah Ari. Malam itu Ari datang untuk menjemputku kita berencana untuk dinner di suatu kafe di daerah Malang. Tangan lembutnya tiba-tiba mengusap rambutku yang terurai. “Ma, aku sangat mencintaimu bahkan aku sangat takut kehilanganmu.” kata itulah yang terucap dari mulutnya. Aku tak bisa berkata apa-apa hatiku begitu senang mendengar semua itu.
Waktu itu tanggal 12 juni 2015 tepat hari ulang tahunnya aku memberikan kue untuknya, wajah bahagia mulai terpancar dari senyumnya. Tiba-tiba dia mendekatiku dia mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Aku selalu merasakan bahwa Ari benar-benar masuk dalam hatiku. Suatu hari aku berdebat hebat dengannya, biasanya dia yang selalu mengalah demi aku tapi waktu itu sama sekali dia tak mempedulikanku lagi.
“Udah ya kamu jangan sedih, mungkin Ari lagi sibuk kerja.” kata sahabatku mencoba menghiburku.
“Dia itu gak pernah gini sama aku, dia tuh gak pernah biarin aku lama marah-marah, dia selalu minta maaf setiap kita bertengkar, tapi sekarang apa?” sambil menahan air mata aku mengungkapkannya pada sahabatku.
“Dia itu gak pernah gini sama aku, dia tuh gak pernah biarin aku lama marah-marah, dia selalu minta maaf setiap kita bertengkar, tapi sekarang apa?” sambil menahan air mata aku mengungkapkannya pada sahabatku.
Setelah beberapa hari aku dan Ari tidak ada kontak sama sekali. Hatiku bertanya-tanya ada apa semua ini kenapa dia tega sama aku kenapa dia tega membiarkan aku seperti ini, mungkinkah dia telah melupakanku? Dan aku menjalani hari-hariku dengan teman-teman yang selalu ada untukku. Suatu malam tiba-tiba aku mendengar hp-ku bunyi betapa terkejutnya aku ternyata Ari meneleponku. “Ma, maafin aku ya udah buat Mama nunggu, maafin aku juga ya Ma udah bikin Mama kecewa, aku sayang Mama, aku gak mau kehilangan Mama, maafin aku ya Ma.” kata itulah yang aku dengar di telepon genggamku.
“iya Pa, aku juga minta maaf ya aku terlalu egois Pa” kata itu yang terucap dari mulutku.
Aku merasa bahwa hubunganku akan baik-baik saja seperti dulu yang ada malah semakin romantis dan bahagia. Ternyata apa yang aku pikirkan salah, salah besar. Malam itu aku BBM dia. “Pa lagi apa, lembur kah?” tanyaku pada Ari. “Enggeh Ma, aku tinggal lembur dulu ya” jawab Ari.
Aku merasa bahwa hubunganku akan baik-baik saja seperti dulu yang ada malah semakin romantis dan bahagia. Ternyata apa yang aku pikirkan salah, salah besar. Malam itu aku BBM dia. “Pa lagi apa, lembur kah?” tanyaku pada Ari. “Enggeh Ma, aku tinggal lembur dulu ya” jawab Ari.
Memang percakapan itu baik-baik saja, Tapi setelah aku membuka media sosialnya Ari aku begitu terkejut. Aku masih mencoba menyelesaikan ini dengan baik-baik dan aku coba tanyakan ke dia.” Pa aku kok ngerasa jauh ya dari kamu, aku gak pernah ngerasa sejauh ini Pa sama kamu” pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Dengan gampangnya dia menjawab. “biasa aja.” Hati ini tiba-tiba terasa sakit, ingin rasanya aku mengungkapkan semua yang aku rasakan saat itu. Tapi aku masih mencoba untuk menanyakannya lagi. “Pa jujur ya sebenernya ada apa?” tanyaku lagi. “gak apa-apa” jawab dia. Akhirnya aku mencoba menelepon dia tapi apa yang dikatakan. “ngapain telepon aku.” jawaban yang begitu singkatnya berhasil melukai hatiku. Aku memutuskan untuk tidak berhubungan beberapa hari.
Tapi yang terjadi dia menghubungiku pertamanya aku begitu senang mengangkat telepon darinya, tapi malah hinaan dan cacian yang aku dapat. Dia telah berubah gara-gara perempuan yang baru dia kenal, yang baru masuk dalam hidupnya dia tega membuatku sakit hati, membuatku menangis, bahkan kata-kata yang kasar ke luar dari mulutnya tak bisa ku lupakan. Aku coba BBM dia untuk ngejelasin semuanya tetap aja hanya hinaan dan cacian yang aku dapatkan. “Suatu saat kamu bakalan ngerti sendiri mana yang benar dan mana yang salah, kamu sekarang masih emosi.” dengan hati yang penuh luka, aku ucapkan semua itu padanya, tepat tanggal 25 Oktober saat ulang tahunku yang ke-17 kurang 2 hari dia menyayat hatiku begitu dalam, aku sangat membencinya, aku sangat kecewa dengannya.
“Dit, mungkin Ari mau nyiapin Ulang tahun buat kamu.” salah seorang temanku mencoba meyakinkanku.
“gak mungkin ta, gak mungkin dia tuh gak pernah setega ini sama aku” dengan sedikit napas yang tersengal-sengal aku mengatakan itu.
“gak mungkin ta, gak mungkin dia tuh gak pernah setega ini sama aku” dengan sedikit napas yang tersengal-sengal aku mengatakan itu.
Kaget, gugup, bingung kejutan pun datang tepat tanggal 27 oktober 2015 saat ulang tahunku aku kira itu kejutan yang akan membuatku bahagia ternyata Ari meneleponku hanya untuk mencaci maki, menghina bahkan dia melakukannya tepat pada ulang tahunku. Dia melukai perasaanku begitu dalam, begitu perih bahkan aku tak berdaya. Aku membencinya, aku sangat membencinya, aku sangat ingin menampar dia.
Tapi apa dayaku mungkin ini memang garis yang udah Tuhan rencnakan buatku, aku mencoba memotivasi diriku dan aku bisa menjalani hari-hari dengan sahabat-sahabatku tanpa Ari di hidupku. Satu bulan kemudian tiba-tiba dia datang meminta maaf atas semua kesalahannya, tapi tak semudah itu mungkin aku memaafkan semuanya tapi untuk kembali hati ini sudah tak bisa lagi, luka yang Ari berikan sudah terlalu sempurna untukku. Mungkin aku merindukanmu tapi aku lebih membencimu. Jadi apa pun kamu dalam hidupku yang jelas kamu telah menulis cerita di hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar