Sabtu, 23 Januari 2016

CINTA ELEKTRONIK

Malam ini aku bersumpah untuk jadi orang paling cuek di dunia. Habis makan malam aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu, dan segera saja setelah memasang musik teman belajar. Aku menyiapkan alat yang besok harus aku bawa ke sekolah, mulai buku-buku tebal, buku catatan, dan alat tulis. Ketika aku memindahkan semua isi tasku, aku baru menyadari ada yang kurang. Aku naik ke atas kasur dan meraba-raba rak buku yang sulit untuk aku jangkau.
“Ah, iya mungkin terselip di bawah bantal.” kemudian aku dengan segera duduk di atas kasur, dan mulai mengangkat semua bantal dan melemparkannya ke lantai. “Aduh, di mana ya.. kok gak ada?” Flashdisk itu selalu ada di tasku dan tadi sore aku gak ngeluarin flashdisk itu.
Sekian banyak wajah dan nama yang berseliweran di kepalaku. Mulai dari trio jahil, 3 cewek paling jahil di kelas, terus Tia si tukang gosip, sampe si Citra temen sebangkuku, yang selalu pengen tahu urusan orang. Tapi ada satu orang yang gak bisa aku terima, jika saja flashdisk itu memang dia yang ngambil, dia Bagus si es krim, julukanku untuknya. Malam ini aku lewati dengan penuh rasa penasaran, entahlah mungkin flashdisk itu terjatuh atau mungkin aku yang lupa meletakkannya. Alhasil belajar pun tak konsen dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Mungkin besok aku akan datang lebih awal ke sekolah untuk mencari flashdisk itu.
Keesokan harinya, jreng jreng di luar dugaanku, kenapa makhluk-makhluk ini udah pada memenuhi isi ruangan. Aku melirik jam dinding, nah loh ini kan baru jam 6.00. Duh misi gatot kaca, gagal total karena cacat, mereka ngapain sih sibuk banget gitu. “Anggun, tugas bahasa Inggrisnya sudah? Cepat kerjakan, mau dapat nilai C lagi.” perintah seseorang dengan lembut yang lebih tepatnya masuk kategori perhatian.
“Duh iya.” menepuk jidatku dengan keras. Aku langsung masuk kerumunan anak-anak yang asyik melakukan aksi nyontek massal. Haaddeehhh.
Di tengah sibuk-sibuk menyalin aku baru ngeh kalau yang ngingetin aku buat ngerjain tugas tuh si Bagus, eh kok aneh yah, seorang yang bertanggung jawab sebagai ketua kelas, yang selalu berurusan dengan guru karena ulahku. Dia yang hanya berbicara seperlunya, sangat kaku dan dingin. Dia juga yang tidak pernah bersikap manis dan bertegur sapa denganku. Ckckckck. Untuk seper sekian detik kemudian, entah kenapa leherku reflek menoleh ke belakang, melihat ke arah Bagus.
Saat itu aku langsung memelototinya yang saat itu juga melihat ke arahku dan aku pun mengacungkan jari tengah kepadanya. Di luar dugaanku dia tersenyum, itu aneh sekali biasanya dia akan sangat cuek dan tidak peduli. Tapi sekarang, dia begitu manis saat tersenyum, senyum yang jarang ia sunggingkan. Ah sudahlah, daripada jantungku melorot melihat dia tersenyum lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku, batinku mengingatkan.
Hari ini semuanya terasa berat, aku menyeret langkahku dengan malas-malasan menuju tempat parkir. Langkahku terhenti, aku teringat sesuatu, flashdiskku, bagaimana mungkin hal sepenting ini aku bisa lupa. Buru-buru aku mengambil langkah seribu untuk kembali ke kelas. Untunglah kelas sudah sepi, bisa leluasa nih nyarinya. Sudah ku periksa semuanya, ku periksa sudut-sudut kelas, ku bongkar semua isi laci milik teman-temanku. Dan nihil?
“Aduh, capenya.” keluhku.
“Anggun? Belum pulang?” aku dikejutkan oleh suara di belakangku.
“Nah, kamu sendiri, kenapa kamu masih di sini?” aku balik bertanya.
“Ada barang yang ketinggalan.” jawabnya lalu berjalan menuju bangkunya.
Dia sibuk merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya.
Hmm.. lima menit sudah kami berdiam-diaman saja. Entah apa yang dia kerjakan, apakah hanya merapikan kertas-kertas itu sebegitu lamanya. Aku baru saja hendak berbicara namun dia mulai beranjak dari tempatnya. Aku terkesiap, mengatupkan kembali bibirku, tak jadi berbicara. Bagus berjalan ke luar, namun di depan pintu ia berbalik. “Apa ini milikmu?” mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Tak ada kata yang terucap dari bibirku saat ku ketahui apa yang dikeluarkan dari sakunya. Aku hanya bisa memanjatkan doa dalam hati, semoga saja dia tak melihat isi di dalamnya. Dia menyodorkan flashdisk itu ke arahku.
“Jadi ini sebabnya kau selalu membuat ulah di kelas.” katanya datar. Belum sempat aku menjawab, “Kau selalu cari-cari perhatian dariku, iya kan?”
“Heh? apa ini? kenapa kamu segitu PD-nya? Memangnya aku anak yang kurang perhatian dari orangtua sehingga mencari-cari perhatian darimu!” Jawabku sekenanya.
“Baiklah, kau tidak perlu melakukan itu lagi, karena mulai sekarang aku akan selalu memperhatikanmu.”
“Ak..ku…” Nah kan, serangan penyakit ga gu kambuh. Bagaimana ini? Aku ingin menyangkal dari fakta bahwa aku menyukainya, namun lidahku mendadak keluh. Ku palingkan wajahku dari matanya yang masih menatapku, ku rasakan wajahku memanas, pasti wajahku sudah seperti kepiting rebus.
Cukup lama kami berhadap-hadapan seperti ini. Setelah berhasil menetralisir wajahku, aku mengangkat kepala. Dia menatapku lekat-lekat, aku menatapnya penuh tanya. Apa ada yang salah denganku? Tiba-tiba ku lihat senyuman yang mengembang di bibirnya, begitu sukses membuatku tersenyum lebar. Pada akhirnya, tidak selamanya ceroboh itu merugikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar