Sabtu, 23 Januari 2016

MALAM KELABU

Aku tidak berhenti menangis, walaupun orang-orang telah pergi. Aku tetap saja tidak mempercayai kalau Ayah telah tiada, sekarang aku hanyalah seorang diri yang tidak mempunyai ayah dan bunda, aku akan hidup sebatang kara di dunia ini dalam umur yang cukup muda dan masih sangat membutuhkan kasih sayang.
“Chel.. sudah yaa… ayo kita pulang sayang…” Tanteku berusaha membujukku pulang sambil mengangkat badanku. Aku masih menangis dan aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak Tante. Rachel mau tetap di sini menemani Ayah dan Bunda saja,” jeritan batinku.
“Ikhlaskan semuanya sayang, Ayahmu akan sedih bila kamu terus begini sudahlah mari kita pulang.” tante memaksaku untuk berdiri. Aku pasrah dan kami pun pulang.
Aku diam di depan pintu masuk aula sekolah, tapi tidak terlihat batang hidung ayah sama sekali, ia berjanji akan datang tapi mengapa hingga kini tak kunjung juga datang? “Rachel, 5 menit lagi bagianmu.. Ayo mari masuk.” Bu Indah berkata. Aku hanya menunduk dan menurut. Aku tahu ayah akan datang dan aku yakin itu, walau ayah telat tidak apa.. pikirku, yang jelas ayah sudah mengusahakannya demi aku. Aku ingat pesan ibu dalam sebuah buku hariannya yang dia buatkan untukku, bila aku merasa sendiri dan merasa gugup maka ‘Pejamkanlah matamu dan menarik napas. Bayangkan ayah dan bunda ada di sebelahmu, lalu buka matamu dan baca Bismillah..’
Aku melakukan itu dan aku pun mulai bernyanyi, dalam bayanganku ayah dan bunda sedang menemaniku dan berada di sebelahku sambil mengikuti ucapan-ucapan lagu yang sama ku nyanyikan. Rasanya kami sedang bernyanyi bersama di panggung ini. Penonton begitu bersorak dan bertepuk tangan meriah setelah aku selesai bernyanyi, dan aku pun turun dari panggung. Teman-temanku mendekatiku.
“Rachel.. suaramu sangat bagus.” Indira berkata. “Tentu saja, dia kan sahabat kita.” Meila juga berkata. Kami lalu tertawa bersama. “Haii.. Rachel, suaramu bagus dan selamat telah sukses memeriahkan acara ini.” kata Kenzi yang baru datang. “Yaa.. terima kasih.” aku menyambutnya dengan senyuman. Malam puncak pun tiba, aku masih tak menemukan ayahku. Aku terus menghubunginya tapi handphone-nya tidak aktif. Perasaanku mulai tidak enak, tiba-tiba saja ketika aku akan berbalik ke belakang aku menyenggol sebuah gelas yang ada di meja.
“Ayah…” spontan aku berteriak.
Orang-orang melihatku dengan heran dan perasaan aneh. Aku berusaha menenangkan diri dengan ke luar dari gedung aula, tidak lama kemudian handphone-ku berdering dan nomor ponsel yang tertera adalah nomor ayahku. Senangnya aku segeralah aku mengangkatnya, setelah ku dengar suara dari handphone itu.
“Selamat malam, apa benar ini keluarga dari Bapak Irawan?” Seseorang berbicara di ujung gagang telepon.
“Iya, benar.” gumamku pelan, aku mulai panik dan berkeringat. Bukan suara ayahku dan kabar buruk yang diberitakannya badanku terasa remuk, lemas tak berdaya handphone-ku terjatuh dan aku pun merasa lemah, semua gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar