Sabtu, 23 Januari 2016

BERSELIMUT MIMPI

Malam ini udara di kampungku begitu dingin, suara rintik hujan membisik kesunyian. Angin sepoi-sepoi berhembus lewat celah-celah ventilasi kamarku, menyentuh tubuh ini, membuat semakin malas saja untuk sekedar keluar dari kamarku tercinta ini. Aku masih mencermati kata demi kata yang berbaris dalam kitab yang sedang ku baca. Berbekal jaket juga selimut yang melilit tubuhku aku duduk di atas tikar bersama kitab yang ku beli beberapa minggu lalu dari ibu kota.
Sesekali ku tengok ruang tengah dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, ibuku terlihat serius menonton sinetron di televisi. Tak tahulah apa sebab ibuku itu sangat menyukai sinetron seperti kebanyakan wanita khususnya ibu-ibu. Itu dunia mereka, aku tak tahu apa-apa. Jam masih menunjukan pukul 20:30 WIB tapi mata ini sudah mulai berat, mengantuk. Mungkin karena tadi siang aku harus membantu kakakku memindahkan kayu bakar dari kebun sampai rumahku, jadi tubuh ini meminta istirahat lebih awal.
Pagi ini udara begitu sejuk, meski mentari telah menampakkan batang hidungnya dari tadi. Beginilah kampungku yang terletak di kaki sebuah gunung di daerah Magelang. Tak pagi, tak siang, dan tak malam tetap terasa dingin. Langit biru membentang, terasa lengkap sudah keindahan di pagi ini. Pagi ini berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Hati ini terasa bahagia, pasalnya siang ini aku akan melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis pujaanku, Aisyah namanya.
Nama yang akan selalu mengingatkanku akan gadis itu, gadis sederhana yang selalu menundukkan pandangannya ketika ia berjalan. Jilbab besarnya yang kadang tertiup angin menambah keanggunannya dan akan membuat hati ini berdebar-debar. Entah, aku tak ingat kapan aku datang ke rumah orangtuanya untuk meminangnya dan apa yang ku katakan kepada orangtuanya hingga aku diterima untuk menjadi menantu mereka. Aku pun lupa kapan ibuku memberi izin padaku untuk menikah, perasaan ia belum memberi izin padaku untuk itu. Semua itu seakan menjadi memori yang hilang dari ingatanku.
Ah entahlah, yang penting pagi ini aku telah bersiap di depan rumah, menanti keluargaku yang tengah bersiap-siap untuk mengantarkanku ke tempat Aisyah untuk melaksanakan ijab qabul. Mobil yang dipinjam kakakku dari temannya juga sudah diparkir di depan rumah, mobil yang akan mengantarkanku karena perjalanan memang cukup jauh, sekitar 3 jam kata kakakku. Kedua kakak laki-lakiku memasuki mobil bersama istri dan anak-anak mereka yang masih kecil. Sementara kakak perempuanku hanya menunggu di rumah bersama para kerabat mempersiapkan acara besok pagi di rumah karena ia sedang hamil tua.
Aku menuntun ibuku menuju mobil sambil sesekali mengusap keringat yang membasahi keningku. Semuanya jadi terasa panas karena aku tak terbiasa memakai jas juga sepatu, atau mungkin karena aku memang sedang panik, jadi muncul keringat dingin dari dahi juga telapak tanganku. Tiba-tiba aku ingat sapu tanganku ketinggalan, aku berjalan agak cepat masuk ke rumah tuk mengambil sapu tangan. Tak sengaja kakiku tersandung dan akhirnya terjatuh. Dan tak tahu mengapa rasanya begitu susah untuk berdiri lagi.
Sayup-sayup terdengar suara murottal dari kamarku, pertanda waktu subuh akan segera tiba. Ku coba untuk membuka mata, masih gelap gulita. Ah.. aku masih tidur di atas tikar dan diselimuti. Pasti ibuku yang menyelimutiku dan mematikan lampu kamarku tadi malam. Kitab yang tadi malam ku baca juga sudah tidak ada, mungkin telah dirapikan. Rasanya mata ini tak bisa ku paksa untuk bangun sebelum subuh, akhirnya ku rapatkan selimut kembali dan tidur. Hingga suara adzan pamanku membangunkanku disertai suara ibuku yang menyuruhku tuk segera bangun dan lekas ke mesjid.
Suasana masih gelap, jalanan basah sisa hujan malam hari. Di tengah perjalanan ke mesjid serasa ada orang yang berjalan di belakangku. Karena penasaran maka aku pun menoleh ke belakang. Sontak diri ini terkejut dan hati berdebar melihat gadis di belakangku yang tiba-tiba menutupi muka dengan mukenanya. Dialah Aisyah, mengingatkanku akan mimpiku malam tadi. Dan membuat diri ini senyum-senyum sendiri sepanjang jalan menuju mesjid.

PAGI KU YANG HILANG

Beberapa hari telah berlalu seperti biasa aku duduk di depan rumah sendiri. Semenjak dia pergi meninggalkanku tanpa sebab. Malam ini ditemani gemerlap bintang dan bulan aku mencoba mengingat masa itu. seakan masih belum percaya dengan yang ku alami! Dia tak lain adalah orang yang ku cintai dan ku sayangi kami sudah kenal selama lima bulan dan selama lima bulan aku sangat bahagia bisa bersamanya. Dia datang disaat hati ini sepi memberikan warna baru dalam hatiku.
Pagi ini aku dikagetkan oleh suara ketukan pintu rumahku. Tok.. Tok.. Tok! “Assalamualaikum?” Suaranya begitu merdu memecahkan rasa kantukku di pagi hari. Dengan langkah berat aku bangun dari ranjangku untuk membuka pintu rumah, ku dapati sosok perempuan manis memakai jilbab dengan senyum gigi gingsulnya dan tak lain dia adalah “Nova” kekasihku. Dengan suara agak berat karena masih mengantuk aku menjawab.
“Wallaikumsalam. Pagi-pagi kok tumben udah datang sayang?”
“Iya, gak apa-apa kan aku dateng sepagi ini soalnya aku bawain sarapan buatmu nih!”
Dengan senyumku yang bahagia aku berterima kasih pada Tuhan karena telah dipertemukannya dengannya, lalu ku persilakan masuk dia duduk di ruang tamu. Kami mulai berbincang banyak ditemani hangatnya mentari pagi hari. Tapi aku melihat ada sesuatu yang berbeda dengan biasanya wajahnya terlihat murung mulai ku tanyakan padanya.
“Yank, kamu kenapa kok murung? apa ada masalah?”
“Enggak kok gak ada apa-apa. Cuman aku agak berpikir tapi lupakanlah gak penting juga kok! hehe.” dengan senyum yang kecut dia menjawabku.
Entah mengapa hatiku seakan ragu dengan jawabannya itu, seperti ada yang berusaha dia sembunyikan dariku entah apa itu. Aku bersikeras bertanya padanya apa yang terjadi dengannya. Akhirnya dia mau menjawab pertanyaanku dengan sedikit berat. Dia mulai bercerita tentang yang dia alami, aku hanya diam mematung setelah dia bercerita rasanya sedih otakku mulai berpikir cepat.. seakan aku tak bisa berbuat apa-apa dan yang saat ini bisa ku lakukan hanyalah memberinya semangat dan doa.
KISTA, penyakit yang saat ini ada dalam dirinya. Dia bercerita tentang sakitnya itu setelah dia mengalami sakit pada bagian perutnya. Lalu dia periksa ke dokter setelah dia periksa dokter menyatakan bahwa dia terkena penyakit itu, dan itu harus segera ditangani serius yaitu operasi karena akan semakin tumbuh. Dia kemudian memelukku erat, air mata yang menetes tak mampu dia bendung. Aku pun semakin sedih dengan keadaannya saat ini aku sangat sayang dengannya apa pun akan aku lakukan demi kebahagiaannya.
“Aku, akan mengusahakan mencari uang agar kamu cepat dioperasi!”
“Tak usah.. makasih kamu doain aja. Aku gak minta kamu harus seperti itu padaku.. aku tak ingin jadi beban pikiranmu.” dengan senyumnya seakan di tak ingin aku terlalu khawatir dengan keadaannya itu.
Baiklah aku mencoba berpikir positif, Aku percaya padanya.. lalu untuk melepas kesedihannya aku mengajaknya ke luar jalan-jalan berkeliling menggunakan sepeda motorku. Setelah kami cukup puas berkeliling kami kembali. Setelah kami sampai dia berpamitan padaku untuk pulang. Aku pikir ini seperti biasa ku tatap dia menaiki motornya mulai menjauh dari pandanganku. Aku kembali dengan rutinitasku biasanya. Keesokkan harinya di pagi hari yang sama ku dengar handphone bunyi kencang.
“Tit.. Tit.. Tit,” ku buka ternyata pesan dari kekasihku.
“Sebelumnya aku minta maaf. Kita tak bisa seperti ini terus lebih baik kita jangan bertemu lagi maaf. Jika kita memang berjodoh gak akan ke mana-mana pasti suatu saat bersama lagi.”
Setelah aku membaca pesan darinya seakan tak percaya dia berkata seperti itu padaku setelah apa yang kita lalui selama ini dia meninggalkanku begitu saja. Apa yang salah denganku? Kemudian aku membalas pesan darinya dengan rasa kecewa. “Baiklaah jika itu sudah menjadi sebuah keputusannmu aku tak tahu mau gimana lagi, aku tak bisa memaksamu untuk tidak pergi mungkin itu lebih baik buatmu. Terima kasih atas semua perhatianmu padaku selama ini.” Setelah aku membalas pesannya, sampai sekarang dia tak pernah menghubungiku lagi.

SAHABAT ITU UNTUK SELAMANYA BUKAN UNTUK SESAAT

Pagi yang indah untuk 6 orang sahabat yang sedang berbincang-bincang di kantin sekolah.
“Reva ke mana kok belum datang jam segini?” ucap Febri sambil melirik jam tangan yang ada di tangannya.
“mungkin masih ada di depan kali!” jawab Pipit.
“ya mungkin dan bisa jadi!” kata Febri.
“tapi guys, akhir-akhir ini seperti ada yang aneh dengan Reva akhir-akhir ini!” ucap Anggun.
“aneh bagaimana?” kataku sambil berlagak bingung.
“ya aneh, mulai dari sikapnya ke kita, cara bicaranya ke kita semuanya tuh kayak aneh, dia nggak kayak dulu banget!” jelas Anggun.
“enggak Nggun, sebenernya nggak gitu.” ucap Tita sambil memakan stick favoritnya.
“terus gimana dong ceritanya?” tanya Anggun. “jadi gini sebenernya Reva itu marah karena kamu sama Pipit punya baju couple, tapi dia itu pengennya semua dari anggota sahabat kita itu baju couplenya itu sama.” jelas Tita.
“ya ampun, jadi hanya karena baju couple?” kata Pipit. “ya bagaimana bisa kita semua memakai baju yang sama, orang yang kemarin itu cuma tinggal 2!” jelas Anggun pada Tita. Reva datang dan langsung duduk di sebelahku.
“hai guys!” sapanya sambil tersenyum. “hai!” ucap kami semua bersamaan.
“haduhh, sorry ya aku telat ini gara-gara adikku Diyan!” ucapnya.
“kok bisa gara-gara Diyan, Rev?” tanya Pipit.
“ya iyalah tadi aku nungguin dia di depan rumahnya sampe setengah jam, eh ternyata dia udah berangkat bareng temennya gimana nggak kesel coba!” jelas Reva.
“Rev, kita mau bicara sesuatu sama kamu!” ucap Anggun. “apa?” kata Reva.
“bener kamu marah ke kita gara-gara aku pake baju couple sama Pipit?” tanya Anggun.
“nggak kok.” ucapnya sambil seolah-olah dia tak pernah memikirkan hal itu.
“aku serius, kalau kamu nggak mau jujur juga nggak apa-apa kok.” kata Anggun.
“siapa yang bilang ke kamu, Nggun?” tanya Reva. “banyak kok yang bilang kayak gitu.” ucap Anggun.
“pasti Tasya ya kan Nggun.” ucapnya sambil memandangiku dengan sinis.
“kok jadi aku sih, kamu aja nggak pernah cerita apa-apa sama aku. Kenapa jadi aku yang disalahin Rev?” kataku yang sudah mulai emosi. “ya iyalah, kamu bilang kayak gitu supaya aku nggak gabung sama kalian lagi iya kan?!” ucap Reva dengan nada tinggi.
“Rev, kalau bicara itu dipikir dulu dong jangan main ceplas-ceplos aja, kamu pikir aku ember apa?” ucapku dengan emosi yang sudah tidak bisa terbendung lagi. “kayaknya kalian semua pengen persahabatan kita cuma sampai di sini aja ya?” kata Reva. “eh Rev, persahabatan itu selamanya bukan cuma sesaat!” kata Febri yang juga sudah emosi terhadap sikap Reva yang terlalu berlebihan. “alahh, pasti itu semua cuma akal-akalan Tasya doang supaya aku ke luar dari persahabatan ini kan?” tuduh Reva lagi.
“Rev, kalau ngomong yang bener dong!” ucapku dengan nada tinggi.
“alahh, kamu kayak gini gara-gara kamu suka sama kakakku kan? kalau kamu suka sama Kak Reza ngomong aja!” ledek Reva. “Rev, ini semua nggak ada hubungannya sama Reza ya, asal kamu tahu!” ucapku.
“ya udah oke fine, aku ke luar dari persahabatan ini!” ucap Reva dan langsung pergi meninggalkan kami semua.
“Sya udah, Reva emang kayak gitu kamu tenang ya!” kata Anggun sambil menenangkan aku.
“iya aku ngerti kok, yang penting sekarang kita tahu gimana sifat Reva yang sebenernya!” ucapku sambil menenangkan diriku sendiri. “sekarang, sebaiknya kita jaga persahabatan kita, karena kita adalah sahabat selamanya bukan sahabat sesaat!” kata Febri. “setuju!” ucap kami semua hampir bersamaan.
Setelah kejadian itu akhirnya kami mengerti sebenarnya sahabat yang baik bukanlah sahabat yang selalu mengutamakan emosi dan kepentingan dirinya sendiri. Tapi sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu bisa mengerti satu sama lain dan bisa menjaga perasaan satu sama lain. Karena, “Sahabat Itu Untuk Selamanya Bukan Untuk Sesaat Saja.”

AKHIR SEBUAH MIMPI

Aku tidak tahu dari mana semua berawal. Jatuh, rapuh, kecewa, dan bahagia. Ya, itulah hidup. Ada baik ada pula yang buruk. Ada hitam dan ada yang putih. Ada manis dan ada pula yang pahit. Bayangkan apabila si manis dan si pahit saling berkolaborasi, aku yakin semua akan terasa indah. Dan terlengkapi tentunya. Bukankah semuanya diciptakan untuk saling melengkapi? Ketika jatuh, bangkitlah. Lihatlah ke depan. Masih panjang jalan yang akan dilalui. Untuk menjemput sebuah impian. Kadangkala apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh. Begitu pula yang terjadi pada diriku. Aku menyukai sastra. Menulis karangan bebas salah satunya. Apa yang salah menjadi seorang penulis? Orangtuaku meragukan itu. Menjadi penulis tidaklah mudah. Merangkai kata menjadi sebuah kalimat kemudian menyusunnya menjadi paragraf, rumit.
“Sayang, cepat keluar Mas Andra sudah menunggu!” teriak mama dari luar kamar. Satu hal yang membuatku sebal. Mendengarkan Mas Andra yang berceloteh tentang rumus-rumus fisika dan matematika membuatku sedikit frustasi. Aku tidak menyukai itu semua! “Jadi kalau soalnya begini harus memakai rumus ini. Paham dek?” tanyanya.
“Iya.” jawabku singkat. “Cukup sampai di sini pelajaran kita. By the way, besok ada acara? Makan yuk, aku yang traktir deh.” ajaknya kemudian. “Oke Mas” jawabku. Kemudian Mas Andra pamit pulang.
Rumus-rumus tersebut cukup membuatku pusing. Kuambil laptop kesayanganku kemudian mencoba merangkai banyak kata menjadi kalimat yang tepat. Entah kenapa aku sangat menyukai hal ini. Aku tidak ingin bakatku terbuang sia-sia karena menuruti kedua orangtuaku. “Anin, Mama boleh masuk?” suara ketukan pintu mengagetkanku. Mama kemudian memasuki kamarku. “Kamu ngapain sayang?” tanyanya sembari mengelus-elus rambutku. “Lagi nulis.” jawabku singkat.
“Kenapa sih kamu membuang waktumu untuk menulis hal-hal konyol? Lebih baik kamu membaca buku. Ini mama beliin kamu buku.” mama menyodorkan buku yang sedikit tebal. Tertulis di sana Pedoman Awal Kedokteran.
“Percuma Mama beliin aku buku seperti ini. Itu semuanya nganggur. Bahkan belum ku jamah sama sekali.” jawabku yang kemudian menunjuk rak buku di sudut ruangan kamarku. “Kenapa sih kamu tidak pernah mendengarkan Mama sama Ayah? Sudah merasa tidak butuh Mama sama Ayah hah?” Tanya mamaku sambil menahan gejolak dalam hatinya.
“Bukan seperti itu. Mama tolong biarin Anin sendiri,” pintaku kepada mama. Kemudian tanpa bicara sepatah kata pun mama beranjak ke luar dari kamarku. Selalu seperti ini, batinku.
Sore ini aku mengunjungi salah satu tempat makan untuk menemui Mas Andra. “Maaf telat.” ucapnya kemudian duduk berhadapan denganku. “Aku pesan minum dulu sama makan. Kamu mau pesan apa?” tanyanya sopan. “sama seperti Mas Andra saja” jawabku kemudian. Mas Andra segera beranjak untuk memesan makanan. Mas Andra, anak sahabat ayahku yang sekarang mendalami ilmu kedokteran di salah satu PTN yang ternama di kotaku.
“Dek, kalau Mas lihat kayaknya kamu tidak suka IPA ya?” tanyanya hati-hati.
“Iya memang. Tidak ada niatan untuk masuk jurusan IPA. Semua terjadi karena permintaan Mama dan Ayah. Mereka tidak menyukai bakatku. Sehingga mereka memaksaku untuk terjun pada bidang yang sama sekali tidak aku sukai” tanpa sadar aku menceritakan apa yang ku rasakan kepada lelaki ini. Sambil sesekali ku sesap jus alpukat yang dipesan Mas Andra.
“Lantas hal apa yang kamu sukai?” tanyanya balik.
“Aku suka menulis karangan, aku suka bernyanyi dan aku suka bermain piano” jawabku.
“Mamanya adek selalu bilang ke Mas kalau kamu menguasai beberapa bahasa asing. Hebat kamu!” pujinya yang membuatku tertunduk malu. “Menurut Mas kamu harus buktikan kepada mereka kalau kamu bisa membuat sesuatu yang membanggakan dari bakatmu. Seperti membuat buku. Atau mungkin kamu bisa daftar sanggar musik di kota ini. Dengan seperti itu mereka bisa paham Dek” lanjutnya panjang lebar.
“Aku takut Mas kalau pada akhirnya aku gagal. Bukan bikin bangga mereka malah sebaliknya” jawabku menunduk.
“Hei, bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu gagal? Kamu belum mencoba Dek. Percaya pada dirimu sendiri. Jadilah seperti matahari, ia tetap mengeluarkan sinarnya walaupun tidak sedikit orang yang menentangnya” ucapnya diiringi senyuman hangat. Kata-kata itu seakan menjadi suntikan sebuah semangat dalam diriku.
Ku rangkai hasil tulisanku menjadi satu kemudian aku bawa di salah satu penerbit buku di kotaku. Selain itu, aku juga mendaftar salah satu sanggar musik yang cukup ternama. Keahlianku dalam menguasai beberapa bahasa asing membuatku terdaftar menjadi guru di salah satu bimbingan belajar. Hitung-hitung kerja sambilan. Toh kerjanya juga waktu sore.
“Mama dengar kamu masuk sanggar musik? Mau jadi apa kamu? Pemusik? Atau penulis hah?” baru kali ini mama membentakku. Hal seperti ini dipermasalahkan? “Mama, apa aku harus mengorbankan impianku demi Mama?” tanyaku balik dengan mata berkaca-kaca. Air mata mendesak ingin segara ke luar. “Sekarang kamu pergi dari sini! Cepat!” bentak mama. Aku beranjak dari sofa kemudian masuk ke kamar dan memasukkan beberapa pakaian dan laptopku ke dalam tas. Hatiku hancur. Tidak pernah mama seperti ini. Mama tega. Air mata membanjiri pipiku. Kemudian ku langkahkan kaki pergi dari sini.
Sementara waktu aku menginap di rumah Mas Randy atas izin orangtuanya. Ku lihat handphone-ku dan membuka salah satu pesan. Kemudian aku tersenyum puas. “Mas Andra, bukuku siap dipasarkan. Satu hal lagi, aku diundang salah satu group orchrestra yang ternama di kota ini untuk memainkan piano solo” mataku berbinar-binar saat itu.
“Kamu hebat, Mas yakin pasti orangtuamu bangga kepadamu” ucapnya sembari mengacak-acak rambutku.
Menjadi pianis solo dalam acara ini membuat kagum para penonton. Ditambah lagi launching novel pertamaku yang berjudul Akhir Sebuah Mimpi berjalan dengan lancar. Andai mama dan ayah di sini, batinku. Ku lihat di sudut ruangan seseorang yang sangat aku kenali tersenyum bangga ke arahku.
“Semua ini aku persembahkan untuk Mama dan Ayahku,” ucapku di depan panggung. Air mata kembali menetes. Kemudian aku menuruni panggung dan berjalan ke arah mereka. “Maafkan Mama dan Ayah sayang” ucapnya kemudian memelukku.
Bahagia menyelimutiku saat ini. Impianku dan kasih sayang orangtuaku telah berpihak kepadaku. Dari jauh ku lihat seorang lelaki memakai jas mengacungkan dua jempol ke arahku dan tersenyum hangat. Terima kasih Mas Andra, batinku.

TETAP DI DALAM JIWA

2 tahun lebih aku menjalani asmaraku dengan orang yang sangat aku sayangi kita melalui hari-hari yang indah bahkan aku menjadi tempat bersandar di saat dia terpuruk rapuh. Dia begitu sabar, pengertian, tanggung jawab, pekerja keras, perhatian, dan semua hal baik ada pada dirinya dia adalah Ari. Malam itu Ari datang untuk menjemputku kita berencana untuk dinner di suatu kafe di daerah Malang. Tangan lembutnya tiba-tiba mengusap rambutku yang terurai. “Ma, aku sangat mencintaimu bahkan aku sangat takut kehilanganmu.” kata itulah yang terucap dari mulutnya. Aku tak bisa berkata apa-apa hatiku begitu senang mendengar semua itu.
Waktu itu tanggal 12 juni 2015 tepat hari ulang tahunnya aku memberikan kue untuknya, wajah bahagia mulai terpancar dari senyumnya. Tiba-tiba dia mendekatiku dia mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Aku selalu merasakan bahwa Ari benar-benar masuk dalam hatiku. Suatu hari aku berdebat hebat dengannya, biasanya dia yang selalu mengalah demi aku tapi waktu itu sama sekali dia tak mempedulikanku lagi.
“Udah ya kamu jangan sedih, mungkin Ari lagi sibuk kerja.” kata sahabatku mencoba menghiburku.
“Dia itu gak pernah gini sama aku, dia tuh gak pernah biarin aku lama marah-marah, dia selalu minta maaf setiap kita bertengkar, tapi sekarang apa?” sambil menahan air mata aku mengungkapkannya pada sahabatku.
Setelah beberapa hari aku dan Ari tidak ada kontak sama sekali. Hatiku bertanya-tanya ada apa semua ini kenapa dia tega sama aku kenapa dia tega membiarkan aku seperti ini, mungkinkah dia telah melupakanku? Dan aku menjalani hari-hariku dengan teman-teman yang selalu ada untukku. Suatu malam tiba-tiba aku mendengar hp-ku bunyi betapa terkejutnya aku ternyata Ari meneleponku. “Ma, maafin aku ya udah buat Mama nunggu, maafin aku juga ya Ma udah bikin Mama kecewa, aku sayang Mama, aku gak mau kehilangan Mama, maafin aku ya Ma.” kata itulah yang aku dengar di telepon genggamku.
“iya Pa, aku juga minta maaf ya aku terlalu egois Pa” kata itu yang terucap dari mulutku.
Aku merasa bahwa hubunganku akan baik-baik saja seperti dulu yang ada malah semakin romantis dan bahagia. Ternyata apa yang aku pikirkan salah, salah besar. Malam itu aku BBM dia. “Pa lagi apa, lembur kah?” tanyaku pada Ari. “Enggeh Ma, aku tinggal lembur dulu ya” jawab Ari.
Memang percakapan itu baik-baik saja, Tapi setelah aku membuka media sosialnya Ari aku begitu terkejut. Aku masih mencoba menyelesaikan ini dengan baik-baik dan aku coba tanyakan ke dia.” Pa aku kok ngerasa jauh ya dari kamu, aku gak pernah ngerasa sejauh ini Pa sama kamu” pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Dengan gampangnya dia menjawab. “biasa aja.” Hati ini tiba-tiba terasa sakit, ingin rasanya aku mengungkapkan semua yang aku rasakan saat itu. Tapi aku masih mencoba untuk menanyakannya lagi. “Pa jujur ya sebenernya ada apa?” tanyaku lagi. “gak apa-apa” jawab dia. Akhirnya aku mencoba menelepon dia tapi apa yang dikatakan. “ngapain telepon aku.” jawaban yang begitu singkatnya berhasil melukai hatiku. Aku memutuskan untuk tidak berhubungan beberapa hari.
Tapi yang terjadi dia menghubungiku pertamanya aku begitu senang mengangkat telepon darinya, tapi malah hinaan dan cacian yang aku dapat. Dia telah berubah gara-gara perempuan yang baru dia kenal, yang baru masuk dalam hidupnya dia tega membuatku sakit hati, membuatku menangis, bahkan kata-kata yang kasar ke luar dari mulutnya tak bisa ku lupakan. Aku coba BBM dia untuk ngejelasin semuanya tetap aja hanya hinaan dan cacian yang aku dapatkan. “Suatu saat kamu bakalan ngerti sendiri mana yang benar dan mana yang salah, kamu sekarang masih emosi.” dengan hati yang penuh luka, aku ucapkan semua itu padanya, tepat tanggal 25 Oktober saat ulang tahunku yang ke-17 kurang 2 hari dia menyayat hatiku begitu dalam, aku sangat membencinya, aku sangat kecewa dengannya.
“Dit, mungkin Ari mau nyiapin Ulang tahun buat kamu.” salah seorang temanku mencoba meyakinkanku.
“gak mungkin ta, gak mungkin dia tuh gak pernah setega ini sama aku” dengan sedikit napas yang tersengal-sengal aku mengatakan itu.
Kaget, gugup, bingung kejutan pun datang tepat tanggal 27 oktober 2015 saat ulang tahunku aku kira itu kejutan yang akan membuatku bahagia ternyata Ari meneleponku hanya untuk mencaci maki, menghina bahkan dia melakukannya tepat pada ulang tahunku. Dia melukai perasaanku begitu dalam, begitu perih bahkan aku tak berdaya. Aku membencinya, aku sangat membencinya, aku sangat ingin menampar dia.
Tapi apa dayaku mungkin ini memang garis yang udah Tuhan rencnakan buatku, aku mencoba memotivasi diriku dan aku bisa menjalani hari-hari dengan sahabat-sahabatku tanpa Ari di hidupku. Satu bulan kemudian tiba-tiba dia datang meminta maaf atas semua kesalahannya, tapi tak semudah itu mungkin aku memaafkan semuanya tapi untuk kembali hati ini sudah tak bisa lagi, luka yang Ari berikan sudah terlalu sempurna untukku. Mungkin aku merindukanmu tapi aku lebih membencimu. Jadi apa pun kamu dalam hidupku yang jelas kamu telah menulis cerita di hidupku.

CINTA ELEKTRONIK

Malam ini aku bersumpah untuk jadi orang paling cuek di dunia. Habis makan malam aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu, dan segera saja setelah memasang musik teman belajar. Aku menyiapkan alat yang besok harus aku bawa ke sekolah, mulai buku-buku tebal, buku catatan, dan alat tulis. Ketika aku memindahkan semua isi tasku, aku baru menyadari ada yang kurang. Aku naik ke atas kasur dan meraba-raba rak buku yang sulit untuk aku jangkau.
“Ah, iya mungkin terselip di bawah bantal.” kemudian aku dengan segera duduk di atas kasur, dan mulai mengangkat semua bantal dan melemparkannya ke lantai. “Aduh, di mana ya.. kok gak ada?” Flashdisk itu selalu ada di tasku dan tadi sore aku gak ngeluarin flashdisk itu.
Sekian banyak wajah dan nama yang berseliweran di kepalaku. Mulai dari trio jahil, 3 cewek paling jahil di kelas, terus Tia si tukang gosip, sampe si Citra temen sebangkuku, yang selalu pengen tahu urusan orang. Tapi ada satu orang yang gak bisa aku terima, jika saja flashdisk itu memang dia yang ngambil, dia Bagus si es krim, julukanku untuknya. Malam ini aku lewati dengan penuh rasa penasaran, entahlah mungkin flashdisk itu terjatuh atau mungkin aku yang lupa meletakkannya. Alhasil belajar pun tak konsen dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Mungkin besok aku akan datang lebih awal ke sekolah untuk mencari flashdisk itu.
Keesokan harinya, jreng jreng di luar dugaanku, kenapa makhluk-makhluk ini udah pada memenuhi isi ruangan. Aku melirik jam dinding, nah loh ini kan baru jam 6.00. Duh misi gatot kaca, gagal total karena cacat, mereka ngapain sih sibuk banget gitu. “Anggun, tugas bahasa Inggrisnya sudah? Cepat kerjakan, mau dapat nilai C lagi.” perintah seseorang dengan lembut yang lebih tepatnya masuk kategori perhatian.
“Duh iya.” menepuk jidatku dengan keras. Aku langsung masuk kerumunan anak-anak yang asyik melakukan aksi nyontek massal. Haaddeehhh.
Di tengah sibuk-sibuk menyalin aku baru ngeh kalau yang ngingetin aku buat ngerjain tugas tuh si Bagus, eh kok aneh yah, seorang yang bertanggung jawab sebagai ketua kelas, yang selalu berurusan dengan guru karena ulahku. Dia yang hanya berbicara seperlunya, sangat kaku dan dingin. Dia juga yang tidak pernah bersikap manis dan bertegur sapa denganku. Ckckckck. Untuk seper sekian detik kemudian, entah kenapa leherku reflek menoleh ke belakang, melihat ke arah Bagus.
Saat itu aku langsung memelototinya yang saat itu juga melihat ke arahku dan aku pun mengacungkan jari tengah kepadanya. Di luar dugaanku dia tersenyum, itu aneh sekali biasanya dia akan sangat cuek dan tidak peduli. Tapi sekarang, dia begitu manis saat tersenyum, senyum yang jarang ia sunggingkan. Ah sudahlah, daripada jantungku melorot melihat dia tersenyum lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku, batinku mengingatkan.
Hari ini semuanya terasa berat, aku menyeret langkahku dengan malas-malasan menuju tempat parkir. Langkahku terhenti, aku teringat sesuatu, flashdiskku, bagaimana mungkin hal sepenting ini aku bisa lupa. Buru-buru aku mengambil langkah seribu untuk kembali ke kelas. Untunglah kelas sudah sepi, bisa leluasa nih nyarinya. Sudah ku periksa semuanya, ku periksa sudut-sudut kelas, ku bongkar semua isi laci milik teman-temanku. Dan nihil?
“Aduh, capenya.” keluhku.
“Anggun? Belum pulang?” aku dikejutkan oleh suara di belakangku.
“Nah, kamu sendiri, kenapa kamu masih di sini?” aku balik bertanya.
“Ada barang yang ketinggalan.” jawabnya lalu berjalan menuju bangkunya.
Dia sibuk merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya.
Hmm.. lima menit sudah kami berdiam-diaman saja. Entah apa yang dia kerjakan, apakah hanya merapikan kertas-kertas itu sebegitu lamanya. Aku baru saja hendak berbicara namun dia mulai beranjak dari tempatnya. Aku terkesiap, mengatupkan kembali bibirku, tak jadi berbicara. Bagus berjalan ke luar, namun di depan pintu ia berbalik. “Apa ini milikmu?” mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Tak ada kata yang terucap dari bibirku saat ku ketahui apa yang dikeluarkan dari sakunya. Aku hanya bisa memanjatkan doa dalam hati, semoga saja dia tak melihat isi di dalamnya. Dia menyodorkan flashdisk itu ke arahku.
“Jadi ini sebabnya kau selalu membuat ulah di kelas.” katanya datar. Belum sempat aku menjawab, “Kau selalu cari-cari perhatian dariku, iya kan?”
“Heh? apa ini? kenapa kamu segitu PD-nya? Memangnya aku anak yang kurang perhatian dari orangtua sehingga mencari-cari perhatian darimu!” Jawabku sekenanya.
“Baiklah, kau tidak perlu melakukan itu lagi, karena mulai sekarang aku akan selalu memperhatikanmu.”
“Ak..ku…” Nah kan, serangan penyakit ga gu kambuh. Bagaimana ini? Aku ingin menyangkal dari fakta bahwa aku menyukainya, namun lidahku mendadak keluh. Ku palingkan wajahku dari matanya yang masih menatapku, ku rasakan wajahku memanas, pasti wajahku sudah seperti kepiting rebus.
Cukup lama kami berhadap-hadapan seperti ini. Setelah berhasil menetralisir wajahku, aku mengangkat kepala. Dia menatapku lekat-lekat, aku menatapnya penuh tanya. Apa ada yang salah denganku? Tiba-tiba ku lihat senyuman yang mengembang di bibirnya, begitu sukses membuatku tersenyum lebar. Pada akhirnya, tidak selamanya ceroboh itu merugikan.

Minggu, 17 Januari 2016

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN PROPOSAL PEMBUATAN APLIKASI INFORMASI LOKASI PERGURUAN TINGGI DI JAKARTA

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Penelitian
Pembuatan aplikasi seluler berbasis android OS untuk mengetahui lokasi tempat perguruan tinggi di daerah Jakarta. Dengan dukungan fitur gps dan internet di Android maka dapat menciptakan aplikasi yang dapat mengambil keuntungan dari kedua fitur. Jadi lebih mudah bagi calon mahasiswa untuk mendapatkan informasi perjalanan dan menemukan lokasi perguruan tinggi yang ada pada daerah Jakarta.

B.      Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan informasi seputar lokasi geografis, detail perguruan tinggi meliputi fitur telepon, sms, email, foto galeri. Sistem ini mampu menginventariasi lokasi-lokasi setiap tempat perguruan tinggi yang dituangkan dalam sebuah produk database dan peta pengembangan sektor perguruan tinggi. Penelitian mengenai pengembangan aplikasi interaktif sistem informasi lokasi perguruan tinggi di Jakarta berbasis android ini mampu memberikan infomasi lokasi tempat perguruan tinggi untuk membantu masyarakat umum atau calon mahasiswa dalam memperoleh informasi dalam lokasi secara detail, interaksi antara pengguna aplikasi dengan pengelola perguruan tinggi meliputi komunikasi secara langsung dengan beberapa metode yaitu telepon, sms, dan email.
Hasil dari penelitian ini dapat membantu dalam penentuan lokasi dan jalur-jalur terpendek untuk mencapai suatu lokasi perguruan tinggi.





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      Kesimpulan
Aplikasi ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah untuk mempermudah masyarakat atau calon mahasiswa yang ingin kuliah tetapi tidak tahu dimana lokasi perguruan tersebut berada.
Adapun beberapa kekurangan dari aplikasi ini yaitu kurangnya informasi mengenai fasilitas atau sarana apa saja yang ada di perguruan tinggi, struktur organisasi yang ada di perguruan tinggi tersebut serta informasi yang ada pada aplikasi ini juga masih bersifat offline. Kekurangan lainnya yaitu penulis hanya memberikan informasi perguruan tinggi yang ada di Jakarta saja.

B.      Saran

Pada penulisan ini, penulis hanya memberikan informasi umum seputar alamat, akreditasi, fakultas dan jurusan saja. Sehingga masih kurangnya informasi mengenai apa saja yang ada pada perguruan tinggi di Jakarta. Dibutuhkan penambahan informasi seperti fasilitas atau sarana dan struktur organisasi yang ada di perguruan tinggi tersebut. Pada penulisan ini penulis juga hanya memberikan informasi perguruan tinggi di Jakarta saja. Untuk kedepannya mungkin bisa dikembangkan lagi misalnya seperti informasi lokasi perguruan tinggi di Indonesia (mengcakup seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia). Aplikasi ini juga masih bersifat online sehingga dibutuhkan penyempurnaan program agar infomasi yang diperoleh pengguna akan semakin lengkap. Kemudianinformasi ini juga bisa dikembangkan menjadi aplikasi LBS (Location Based Service) agar pengguna bisa mengetahui koordinat posisi pengguna dan dapat menghitung jarak anatara posisi pengguna dengan lokasi tujuan.