Sabtu, 23 Januari 2016

PISAU BERKARAT

Darah bercerceran di mana-mana, barang-barang, buku, baju, celana, meja, kursi, semuanya berantakan, berhamburan. Di luar hujan deras, angin menerbangkan segala benda, sesekali semburat petir meludahi wajah langit, bias cahayanya bahkan terlihat di balik kaca jendela. “A-apa yang-yang kau i-inginkan?” suara Radit tersengal-sengal, napasnya tak beraturan, ia duduk bersandar di sudut ruangan dapur di dekat alat-alat memasak, darah sudah membanjiri bajunya. Lelaki yang mengenakan topeng itu mendekat lagi mengarahkan pisau berkarat yang ia pegang tepat di punggung hidung Radit.
Napas lelaki itu bahkan semakin menggebu, ia seperti harimau kelaparan yang sedang mengepung kijang patah kaki. Radit tak berdaya, hanya diam menanti malaikat maut datang di ujung pisau berkarat itu, napasnya tersengal bahkan untuk mengelap keringat bercampur darah yang mengucur di pelipisnya pun ia tak sempat. “A-apa salah saya, jika-jika kau ingin mengambil hartaku, ambil saja, tapi jangan ambil nyawaku..” Radit menghembuskan napas, mendengus sepelan mungkin. Lelaki itu mendekat, jongkok lalu mengarahkan bibirnya yang tertutup topeng ke arah telinga Radit, “aku bukan butuh harta, aku butuh nyawa. Nyawa pecundang..” Radit bergidik, menelan ludah yang kini terasa pahit. Nyawaku sudah di ujung tanduk, batinnya.
Hujan di luar semakin deras, berkali-kali petir menerangi kolong langit seper sekian detik. Jalanan di dekat rumah Radit lengang, siapa pula yang akan ke luar saat tengah malam, hujan deras. Lebih baik menarik selimut bermain di dalam mimpi. Tak akan ada yang tahu kalau ada keributan di dalam rumah di dekat persimpangan itu. 30 menit sebelum kedatangan lelaki bertopeng itu, Radit baru pulang dari kerja ke dapur untuk menyiapkan mie, memasak nasi dan membuat secangkir teh hangat. ketika ia sedang menuangkan air panas ke dalam cangkirnya, lelaki itu langsung memukul kepala Radit dari belakang, menghantam tubuh Radit dengan tendangan dan melukai punggung Radit dengan pisau berkarat. Darah berceceran, bahkan banjir. Melihat Radit yang tak lagi berdaya lelaki itu kembali ke ruangan tengah, memecahkan kaca lemari, tv, pas bunga, menghambur-hamburkan berkas penting, merusak segala benda, yang akhirnya membuat seisi rumah seperti kapal pecah.
“Apa yang-yang kau cari, ji-jika bukan mencari uangku?” Radit bertanya pelan, volume suaranya ia rendahkan supaya lelaki itu tidak tersinggung. Lelaki itu mendekat, mengenggam erat dagu Radit, membuat bibir pria malang itu monyong, “apa kau tuli pecundang! Aku tak butuh uang, emas, baju, bahkan celana dalammu yang bekas kurap itu, aku tak butuh! aku hanya ingin mengambil nyawamu..” Radit semakin terdesak, dadanya menyempit. Lelaki itu melepaskan tanganya dengan kasar.
“la-lu-lalu siapa kau? A-apa.. apa salahku?”
“salahmu?” lelaki itu menjambak rambut Radit yang sudah dilumuri darah, mendengus kuat. Lalu lelaki itu membuka topengnya. “Kak Damar!” Radit kaget, matanya membulat, ludah ditelan berkali-kali. Lelaki yang membantainya, yang ingin membunuhnya itu ternyata Kak Damar. “Kak ampun Kak, maaf Kak!” Radit meminta iba, Menatap damar lamat lamat. “sudah terlambat Radit, kau tak bisa mengembalikkan keperawanan adikku, nyawa adikku. Kau menjadikannya pacar hanya ingin menikmati tubuhnya, kau pikir dia anak ayam, hah!” jambakan Damar semakin kuat, seperti hendak melepaskan rambut Radit dari batok kepalanya.
“Maaf kak, Radit minta maaf, Radit khilaf.” Radit tersungkur menangis kencang separuh bersujud, “kau harus menanggung perbuatanmu, adikku meninggal karena depresi dan bunuh diri karena kau! Mulut dibalas mulut, gigi dibalas gigi dan nyawa dibalas nyawa pecundang, cuih..!!” Ludah itu sampai ke wajah Radit yang semakin pucat. Jam dinding di ruang tengah berdentang-dentang menopang pukul 12 malam, Suasana yang mencekam hening sesaat bersamaan dengan redanya hujan di luar rumah.
“CASS.. AKKKK…”
Malaikat maut sudah datang, genderang langit sudah ditabuh, darah tumpah ruah, membanjiri dapur, suara berde–akkkk itu memecah hening, lampu dapur berkedap-kedip, remang seketika. Seper sekian detik sebelumnya Radit mengambil pisau berkarat yang jatuh dari tangan Damar, ia menghujamkan pisau itu ke perut Damar yang sedang lengah karena membayangkan nasib pilu adiknya. Damar tersungkur, tidur di atas darah, tidur menyusul adiknya. Suasana kembali hening seketika, seisi rumah bahkan mungkin sejagad. Hanya ada suara burung gagak yang datang saat hujan telah redah tadi.

NADA NADA CINTA

Terlahir sebagai orang tak berbakat seni itu menyebalkan. Seperti aku ini, tidak ada profesionalisme sama sekali dalam bidang nyanyi-menyanyi, tari-menari, apalagi ngegambar-menggambar. Tapi mau nggak mau aku harus hidup dengan seni, setidaknya seni musik, karena pelajaran ini menjadi pelajaran wajib di sekolahku. Kalau sampai nilaiku pada pelajaran ini dapat merah, tetep aja aku gak naik kelas.
Itu artinya nilai pelajaran Fisika, Kimia, dan Biologiku yang selalu dapat sembilan akan sia-sia. Pelajaran seni musik di kelasku sebenarnya tidak terlalu membosankan, karena Pak Tarno sebagai gurunya selalu membawa gitar dan mengajak kami semua bernyanyi. Namun sayangnya, aku tetap tidak tertarik dan lebih memilih duduk di bangku pojokan kemudian tidur dengan diiringi nyanyian teman-temanku yang sangat menyakitkan telinga.
“Hhehh, itu yang tidur di bangku pojokan bangun!” bentakan Pak Tarno yang cukup keras membuatku gelagapan.
“Ii..ya Pak, Siapp!!” jawabku dengan mata yang masih merah.
“Sini kamu!” Pak Tarno kelihatannya kesal dengan tingkahku. Aku berjalan dengan langkah gontai ke depan kelas sambil berpikir hukuman apa yang akan diberikan Pak Tarno padaku.
“Nggak usah takut, Bapak nggak akan ngehukum kamu kok,” guru setengah baya itu malah tersenyum, bukannya marah. Aku hanya mengangguk curiga, karena sepengetahuanku Pak Tarno itu guru paling killer seantero sekolah.
“Kamu ngantuk kan?” Pak Tarno sepertinya bisa membaca keadaanku yang cukup menyedihkan ini.
“Iyaa, Pak. Ngantuk banget,” jawabku jujur, berharap dengan begitu Pak Tarno akan menyuruhku pulang untuk beristirahat di rumah. “Biar kamu nggak ngantuk, coba kamu sekarang njoged atau nyanyi,” ujar pak Tarno tanpa dosa. Asem, kutu kupret, suster ngesot. Pak Tarno licik banget, ternyata ini yang namanya “bukan hukuman” versi beliau. Akhirnya aku memilih untuk bernyanyi saja, soalnya kalau berjoged nanti pantatku yang seksi ini akan mengumbar dosa.
“Cek..cek, ehemm,” aku mulai cek sound, temen-temenku pada tepuk tangan gak karuan.
“Baru cek sound aja udah pada tersepona, apalagi kalau nyanyi beneran,” pikirku keGeeran.
“…Indoneesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala selalu di puja-puja bangsa..” aku mulai menyanyikan lagu sakral Indonesia Pusaka yang nadanya cukup sulit.
“Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda…” aku masih menghayati lagu itu, meskipun teman-temanku menutup telinganya rapat-rapat. Aku terus berusaha menyelesaikan lagu itu. Akan tetapi semakin lama nyanyianku semakin aneh dan gak jelas. Seharusnya nadanya turun, tapi aku naik. Semakin aku berusaha untuk turun, malah nadanya seperti orang keselek. Alhasil aku ngos-ngosan kehabisan napas. Karena Pak Tarno melihatku yang sangat kepayahan, akhirnya beliau memberhentikanku secara paksa.
“Sudah… sudah,” Pak Tarno menyetop nyanyianku.
“Bwahahahaha,” Teman-temanku ketawa guling-guling setelah membuka telinganya sambil menunjuk-nunjuk aku.
Aku hanya tersenyum kecut. Sekarang tidak hanya diriku yang menyadari kalau aku memang tidak berbakat menyanyi, tapi teman-teman sekelasku juga mengetahuinya. Semenjak kejadian itu aku tidak mau menyanyi lagi, karena setiap aku menyanyi teman-temanku banyak yang memuji, lebih tepatnya mengejek, “Suaramu merdu banget, kamu bakat jadi tukang gorengan, hahaha,” ledek mereka ramai-ramai.
Pagi ini sekolah bahkan kelasku sangat sepi saat aku mulai memasuki wilayah itu. Bukan karena hari ini libur, tetapi karena aku memang sengaja berangkat pagi supaya bisa mengerjakan PeEr dengan damai. Sesampainya di kelas aku segera menekuni PR-ku dengan khidmat. Tanpa sadar mulutku bersenandung mengalunkan lagu-lagu slow rock barat kesukaanku. Aku menyanyi dengan sangat nyaman, seolah jiwaku ikut hanyut bersama lagu-lagu itu.
“Suaramu merdu banget,” sapa seorang lelaki yang membuatku berhenti menyanyi. “Iya, merdu dan bakat jadi penjual gorengan, gitu kan maksudmu?” aku menoleh ke sumber suara.
“Bukan, suaramu memang merdu. Saya juga suka dengan logatmu bahasa Inggris, cukup luwes dan fasih,” laki-laki itu kemudian berjalan ke arahku. Ya..Tuhan, baru kali ini ada cowok yang memuji nyanyianku dengan tulus. Jantungku jadi berdebar gak karuan.
“Kenalkan, namaku Rey. Namamu siapa?” laki-laki itu mengulurkan tangannya.
“Tanpa kamu kenalin, aku udah tahu siapa kamu. Kamu kan vokalis band sekolah ini yang cukup ngetop. Ya, meskipun aku gak sekelas sama kamu, tapi aku cukup mengetahui kepopuleranmu,” pikiranku berisik banget diajak kenalan sama cowok ganteng. “Hey, nama kamu siapa? Kok ngelamun?” laki-laki itu hanya memandangku yang bengong kayak orang bego. “ah..Eh, namaku Renata,” jawabku terbata-bata sambil membalas uluran tangannya.
“Emhh, jadi kamu suka menyanyi Ren?” Kali ini Rey menduduki meja di depanku, dekaatt sekali pandangannya.
“Ya suka sih, hanya..” jawabku kemudian, namun terdiam setelah itu, mencoba berpikir keras.
“Hanya apa Ren? kamu tidak bisa menyanyi? Why? Suaramu cukup bagus,” Rey menatapku hangat seolah mengerti apa yang sedang ku pikirkan. “Aku trauma menyanyi, orang-orang mengejekku saat aku menyanyi. Suaraku kayak kaleng rombeng katanya. Bahkan orangtuaku sendiri selalu sebal jika aku menyanyi. Menurut mereka aku gak bisa bedain nada, karena semua nada yang aku nyanyikan baik do, re, mi, fa, sol dan yang lain itu sama saja, kayak gitu lah pokoknya. Intinya aku itu buta nada,” aku memaparkan semua pada Rey.
“Oh, jadi begitu. Menurutku sih, kamu punya modal suara yang bagus. Hanya saja berhubung kamu gak pernah nyanyi, beberapa nyanyian mungkin terdengar sumbang. Dan itulah yang didengar orang-orang sehingga mereka langsung menjudge kamu gak bisa nyanyi, padahal kalau mereka mau mendengarkanmu dengan nyanyian yang barusan kamu nyanyikan, mereka pasti menyadari kalau kamu sebenarnya berbakat,” Rey berpanjang lebar. “Terima kasih ya Rey, bahkan orang-orang terdekatku pun tidak pernah menyemangatiku seperti ini. Apa pun itu, mereka selalu bilang kalau aku ini gak punya bakat dan gak bisa ngapa-ngapain sehingga aku selalu minder,” balasku sedih.
“Okey, it’s just that i can do for friend. So we are friend now, right?” Rey memancingku tertawa saat ia melambaikan kelingkingnya. “Of course,” aku benar-benar tertawa kecil sambil menautkan jari kelingkingku pada jari kelingkingnya yang menyatakan sebuah janji.
“Begitu lebih baik, kamu terlihat sangat manis dengan tawamu,” goda Rey yang membuatku tersipu.
“Baru beberapa menit yang lalu kita berkenalan, aku seperti sudah sangat akrab denganmu. Thanks ya,” aku melepaskan ikatan jari kelingkingku, tapi Rey menolaknya yang membuatku meronta. “Rey… lepaskan!”
Rey melepaskan ikatannya ketika teman-temanku mulai berdatangan. Bahkan tanpa pamit ia langsung ngeloyor pergi. Aku merasa tenang sesaat setelah Rey mendatangiku. Dan aku tidak minder lagi meskipun suaraku kurasa masih sumbang. Sehingga pelajaran pagi itu dapat ku lalui dengan baik karena pikiranku menjadi lebih fokus. Saat istirahat tiba aku memilih untuk duduk termenung di kelas. Aku malas ke luar kelas karena tak membawa uang saku. Lagian kalau aku ke luar, pasti teman-teman cowok yang ada di luar bakalan rame-rame meledekku. Akhirnya aku memutuskan tidur di kelas seperti biasa.
“Hai Renata,” suara seseorang yang cukup ku kenal mengagetkanku. “Oh.. kamu Rey,” aku bangun dengan senang melihat Rey yang datang sambil membawa gitar. “Lihat, apa yang ku bawa? kalau kau bisa bermain gitar, kualitas menyanyimu pasti akan semakin bagus,” ucap Rey sambil menunjukkan gitarnya.
“Aku dulu pernah belajar main gitar sih, tapi senarnya putus semua, gara-gara aku menggenjreng pake uang logam dengan kasar,” ujarku sambil memetik gitar Rey sembarangan.
“Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Sekarang, sini biar ku ajari gitar,” sahut Rey sambil tertawa renyah. Cowok tampan itu menyerahkan gitarnya padaku, dan aku mulai memainkan kunci-kunci dasar.
“Modal kuncimu sudah banyak ternyata, tanganmu juga luwes. Sekarang langsung masuk lagu saja. Emhh.. lagunya Ungu yang Demi Waktu saja, paling mudah,” Rey tersenyum senang. Aku mulai memetik gitar dengan kunci-kunci yang disarankan Rey. Cowok itu menyanyi dengan cukup syahdu. Aku menyadari kalau suara Rey memang top untuk menyanyi, pantas saja dia jadi vokalis band sekolah ini. Penuh semangat, aku juga ikut menyanyi dengan sepenuh jiwaku, sehingga nada yang ku hasilkan cukup pas dan nyaman. Kami menjadi pasangan duet yang serasi.
“Plok… plok.. plok,” terdengar suara tepuk tangan yang riuh sekali dari luar kelas. Kami tidak mengetahui kalau banyak anak-anak yang menonton kami. Aku jadi malu sekali, Rey malah tersenyum menyapa anak-anak yang berkerubut di luar kelas. Beberapa cewek menyalami Rey histeris, kayak baru ketemu aja sama aktor idolanya. Sedangkan aku hanya melongo, tidak ada satu pun yang menyalamiku, apalagi minta tanda tangan.
“Rey mana? mana Rey?” tiba-tiba ada cewek cantik yang menyeruak di antara kerubutan itu sembari berteriak lantang. “Kamu Ra, kamu nyariin aku?” Rey menyahut teriakan cewek yang ternyata namanya Rara.
“Ya jelas, kamu ini gimana to? aku ini pacar kamu. Aku dari tadi nyariin kamu, tak kira kamu nyungsep di kali, eh.. ternyata kamu malah nyangkut di sini sama cewek kaleng rombeng ini,” Rara muntab sambil sesekali melirikku dengan tatapan jijik.
“Habis, kamu dandannya lama banget. Aku ini cowok, sepet ngelihat bedak, gincu, dan barang tektek bengekmu itu,” balas Rey tak kalah muntab. Ujung-ujungnya aku pusing memperhatikan pertarungan sengit mereka. Hatiku juga panas terbakar cemburu. Aku salah menerjemahkan perhatian Rey padaku yang hanya sekejap saja, aku juga salah karena tidak mengetahui kalau ia sudah punya pacar. Ini semua salahku yang terlalu cepat jatuh cinta. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan sesak ini.
“Ren, tunggu!!” teriakan Rey cukup lantang meskipun aku sudah berlari menjauh. “Nggak usah dikejar,” sergah Rara pada Rey yang juga masih cukup ku dengar.
Aku terhenti di taman belakang sekolah yang cukup sepi. Aku terduduk dan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, kemudian menangis sejadi-jadinya. Mulutku bersenandung kecil mengalunkan nada-nada sumbang, bukan karena suaraku tak merdu lagi, tapi karena jiwaku yang sedang sumbang menghadapi kepahitan cinta.
Sepulang sekolah aku masih murung, mengunci diri di kamar. Kenyataan ini memang lebih menyakitkan daripada sekadar diejek cewek kaleng rombeng, sehingga membuatku cukup patah hati. Aku kemudian menyalakan radio untuk mendukung suasana galauku, ku alunkan lagu-lagu cengeng. Hingga aku merasa aneh dengan suaraku, kenapa aku menjadi sangat mudah menyesuaikan nada. Aku merenung sejenak, kemudian jingkrak-jingkrak, “yeye, aku bisa nyanyi,” akhirnya aku merasa sangat berterima kasih dengan rasa galauku yang membuatku jadi bisa menyanyi.
Keesokan paginya aku berangkat seperti biasa sambil tersenyum ceria. Namun ketika berpapasan dengan Rey, tiba-tiba saja senyumku luntur. Aku hanya menatapnya sekilas, bahkan ketika ia menyapa aku hanya terdiam. Bukan karena aku sok jual mahal, justru aku merasa yang pantas mendapat sapaan itu adalah Rara, bukan aku. Kali ini Rey tidak mengejarku, ia membiarkanku lewat begitu saja.
Sesampainya di kelas aku terduduk lesu. Mulutku tak bisa ditahan untuk menyanyi lagi. Aku tak peduli seberapa banyak temanku yang pusing mendengar suara jelekku. Aku juga tak peduli mereka akan meledekku ramai-ramai. Hanya saja, waitt… kali ini teman-teman kelasku cukup aneh, mereka seakan memahamiku dan menyimak lagu-lagu patah hati yang ke luar dari bibirku. Mereka tidak lagi meledekku, bahkan mereka memujiku ketika aku selesai menyanyi.
“Ternyata suaramu merdu sekali, kita salah sangka selama ini,” ujar Dion sang ketua kelas yang dulunya paling getol mengejekku. Beberapa anak juga memujiku hal yang sama.
“Iyalah, nyanyianmu memang bagus, seperti yang ku katakan sebelumnya. Benar kan, mereka baru menyadari kalau kamu sebenarnya berbakat,” suara Rey menyeruak di antara kehebohan teman-teman kelasku. Aku terkejut.
“Oh ya, aku ke sini ingin memberikan ini padamu. Kamu harus nonton ya?” lanjut Rey sambil memberikan tiket konser. Aku hanya mengangguk dan ia buru-buru pergi sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih. Aku memperhatikan kertas tiket itu, tertulis di sana Panggung Kreativitas Seni SMA seprovinsi dan nama band-nya Rey terpampang juga.
Sore itu aku menimang-nimang tiket konser yang diberikan Rey, aku mondar-mandir persis orang linglung. “Datang nggak ya? kalau datang paling aku cuma sakit hati, kalau gak datang entar nyesel. Ahh datang aja lah,” aku memutuskan untuk datang. Setelah siap-siap aku segera meluncur ke tempat temenku yang juga mau nonton. Aku memilih tempat di paling belakang, karena aku tak ingin Rey melihatku datang ke konser ini. Tepat sekali ketika kami datang, ternyata Rey dan kawannya langsung tampil. Aku sungguh terkesima dengan penampilan Rey yang cukup keren. Untuk sekian lama aku memandangnya tanpa berkedip sampai ia juga memandangku dari kejauhan sehingga membuatku jadi salah tingkah.
“Lagu ini saya persembahkan untuk seorang cewek yang berinisial R, yang telah mengobrak-abrik ruang hati saya,” ucap Rey mengawali penampilannya. Aku menjadi GeEr, “cewek berinisial R, mungkinkah itu aku? namaku kan Renata. Ahh.. Tapi kan Rara pacarnya juga berinisial R,” aku sadar diri kemudian.
“Untuk seseorang yang berdiri di belakang sana, I Love You,” teriak Rey lantang sambil mengedipkan mata ke arahku dari atas panggung. Aku menjadi GeEr, celingukan ke sana ke mari menerka-nerka siapakah yang dikedipi oleh Rey di belakang sini. Di tempatku berdiri gak ada Rara perasaan, tapi kenapa dia mengedipkan mata ke arah sini,” batinku berkecamuk.
“Heh, Rey ngedipin mata ke kamu tuh,” temanku, Dewi, kali ini yang menggodaku. Aku hanya tersenyum malu di tengah hiruk pikuk orang-orang yang menyanyi lagunya Hoobastank “Reason is You” dengan dipandu oleh Rey. Sangat lirih aku menyanyikan lagu itu, terus menyanyi dengan segenap perasaan sampai aku memejamkan mata. Ketika aku membuka mata, aku masih tak mengerti saat Rey turun dari panggung, ia berjalan sambil terus menyanyi dengan tenang, seolah panggung ini miliknya. Ia berjalan terus, tak berhenti. Sampai tepat di depanku baru ia berhenti dan berbisik di telingaku. “Menyanyilah, sekarang giliranmu, tunjukkan bakatmu,”
“Aku nggak bisa,” ujarku menolak. Tapi Rey terlanjur menarikku ke depan panggung. “Menyanyilah dengan hati,” itulah kata-kata terakhirnya sebelum ia menyerahkan mikrofon padaku. Aku menatapnya, mencari ketenangan di kedua bola matanya. Lelaki jangkung itu hanya mengangguk. Dan aku menuruti perkataannya, menyanyi dengan hati. Aku dan jiwaku menyatu dengan lagu itu, sampai aku tak menyadari bahwa aku berada di panggung yang ditonton ratusan orang. Yang aku tahu hanyalah menyanyi dan menyanyi. Aku merasa bisa menyesuaikan nada dengan sangat mudah.
“Kamu menyanyi dengan sangat cantik,” puji Rey sesaat setelah kami selesai manggung.
“Iya, aku menyesal dulu sering memperolokmu,” Dion menyahut sambil tergopoh-gopoh membawa bunga. “Sekarang aku malah jatuh cinta sama kamu,” lanjutnya.
“Eitss, kamu jangan kurang ajar. Renata hanya boleh jadi milikku,” ucap Rey merebut bunga dari tangan Dion.
“Ehemm.. Renata, aku sebenarnya jatuh cinta sama kamu. Entah, bahkan mungkin sebelum aku mengenalmu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Rey menyerahkan bunga padaku.
“Bagaimana dengan Rara?” jawabku ragu menerima bunga darinya. “Oh, dia, sudahlah, kami sudah putus. Sebenarnya aku tidak pernah cocok dengannya, tapi dia selalu memaksaku sehingga kemarin-kemarin aku hanya menjalani hubungan tanpa cinta,” jawabnya. Aku mengangguk dan tersipu padanya. Bibirku gatal untuk menyanyikan nada-nada cinta, bukan lagi nada-nada sumbang. Rey terkekeh melihat tingkahku yang seperti anak kecil. Kemudian kami benar-benar bernyanyi bersama.

MALAM KELABU

Aku tidak berhenti menangis, walaupun orang-orang telah pergi. Aku tetap saja tidak mempercayai kalau Ayah telah tiada, sekarang aku hanyalah seorang diri yang tidak mempunyai ayah dan bunda, aku akan hidup sebatang kara di dunia ini dalam umur yang cukup muda dan masih sangat membutuhkan kasih sayang.
“Chel.. sudah yaa… ayo kita pulang sayang…” Tanteku berusaha membujukku pulang sambil mengangkat badanku. Aku masih menangis dan aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak Tante. Rachel mau tetap di sini menemani Ayah dan Bunda saja,” jeritan batinku.
“Ikhlaskan semuanya sayang, Ayahmu akan sedih bila kamu terus begini sudahlah mari kita pulang.” tante memaksaku untuk berdiri. Aku pasrah dan kami pun pulang.
Aku diam di depan pintu masuk aula sekolah, tapi tidak terlihat batang hidung ayah sama sekali, ia berjanji akan datang tapi mengapa hingga kini tak kunjung juga datang? “Rachel, 5 menit lagi bagianmu.. Ayo mari masuk.” Bu Indah berkata. Aku hanya menunduk dan menurut. Aku tahu ayah akan datang dan aku yakin itu, walau ayah telat tidak apa.. pikirku, yang jelas ayah sudah mengusahakannya demi aku. Aku ingat pesan ibu dalam sebuah buku hariannya yang dia buatkan untukku, bila aku merasa sendiri dan merasa gugup maka ‘Pejamkanlah matamu dan menarik napas. Bayangkan ayah dan bunda ada di sebelahmu, lalu buka matamu dan baca Bismillah..’
Aku melakukan itu dan aku pun mulai bernyanyi, dalam bayanganku ayah dan bunda sedang menemaniku dan berada di sebelahku sambil mengikuti ucapan-ucapan lagu yang sama ku nyanyikan. Rasanya kami sedang bernyanyi bersama di panggung ini. Penonton begitu bersorak dan bertepuk tangan meriah setelah aku selesai bernyanyi, dan aku pun turun dari panggung. Teman-temanku mendekatiku.
“Rachel.. suaramu sangat bagus.” Indira berkata. “Tentu saja, dia kan sahabat kita.” Meila juga berkata. Kami lalu tertawa bersama. “Haii.. Rachel, suaramu bagus dan selamat telah sukses memeriahkan acara ini.” kata Kenzi yang baru datang. “Yaa.. terima kasih.” aku menyambutnya dengan senyuman. Malam puncak pun tiba, aku masih tak menemukan ayahku. Aku terus menghubunginya tapi handphone-nya tidak aktif. Perasaanku mulai tidak enak, tiba-tiba saja ketika aku akan berbalik ke belakang aku menyenggol sebuah gelas yang ada di meja.
“Ayah…” spontan aku berteriak.
Orang-orang melihatku dengan heran dan perasaan aneh. Aku berusaha menenangkan diri dengan ke luar dari gedung aula, tidak lama kemudian handphone-ku berdering dan nomor ponsel yang tertera adalah nomor ayahku. Senangnya aku segeralah aku mengangkatnya, setelah ku dengar suara dari handphone itu.
“Selamat malam, apa benar ini keluarga dari Bapak Irawan?” Seseorang berbicara di ujung gagang telepon.
“Iya, benar.” gumamku pelan, aku mulai panik dan berkeringat. Bukan suara ayahku dan kabar buruk yang diberitakannya badanku terasa remuk, lemas tak berdaya handphone-ku terjatuh dan aku pun merasa lemah, semua gelap.

BERSELIMUT MIMPI

Malam ini udara di kampungku begitu dingin, suara rintik hujan membisik kesunyian. Angin sepoi-sepoi berhembus lewat celah-celah ventilasi kamarku, menyentuh tubuh ini, membuat semakin malas saja untuk sekedar keluar dari kamarku tercinta ini. Aku masih mencermati kata demi kata yang berbaris dalam kitab yang sedang ku baca. Berbekal jaket juga selimut yang melilit tubuhku aku duduk di atas tikar bersama kitab yang ku beli beberapa minggu lalu dari ibu kota.
Sesekali ku tengok ruang tengah dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, ibuku terlihat serius menonton sinetron di televisi. Tak tahulah apa sebab ibuku itu sangat menyukai sinetron seperti kebanyakan wanita khususnya ibu-ibu. Itu dunia mereka, aku tak tahu apa-apa. Jam masih menunjukan pukul 20:30 WIB tapi mata ini sudah mulai berat, mengantuk. Mungkin karena tadi siang aku harus membantu kakakku memindahkan kayu bakar dari kebun sampai rumahku, jadi tubuh ini meminta istirahat lebih awal.
Pagi ini udara begitu sejuk, meski mentari telah menampakkan batang hidungnya dari tadi. Beginilah kampungku yang terletak di kaki sebuah gunung di daerah Magelang. Tak pagi, tak siang, dan tak malam tetap terasa dingin. Langit biru membentang, terasa lengkap sudah keindahan di pagi ini. Pagi ini berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Hati ini terasa bahagia, pasalnya siang ini aku akan melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis pujaanku, Aisyah namanya.
Nama yang akan selalu mengingatkanku akan gadis itu, gadis sederhana yang selalu menundukkan pandangannya ketika ia berjalan. Jilbab besarnya yang kadang tertiup angin menambah keanggunannya dan akan membuat hati ini berdebar-debar. Entah, aku tak ingat kapan aku datang ke rumah orangtuanya untuk meminangnya dan apa yang ku katakan kepada orangtuanya hingga aku diterima untuk menjadi menantu mereka. Aku pun lupa kapan ibuku memberi izin padaku untuk menikah, perasaan ia belum memberi izin padaku untuk itu. Semua itu seakan menjadi memori yang hilang dari ingatanku.
Ah entahlah, yang penting pagi ini aku telah bersiap di depan rumah, menanti keluargaku yang tengah bersiap-siap untuk mengantarkanku ke tempat Aisyah untuk melaksanakan ijab qabul. Mobil yang dipinjam kakakku dari temannya juga sudah diparkir di depan rumah, mobil yang akan mengantarkanku karena perjalanan memang cukup jauh, sekitar 3 jam kata kakakku. Kedua kakak laki-lakiku memasuki mobil bersama istri dan anak-anak mereka yang masih kecil. Sementara kakak perempuanku hanya menunggu di rumah bersama para kerabat mempersiapkan acara besok pagi di rumah karena ia sedang hamil tua.
Aku menuntun ibuku menuju mobil sambil sesekali mengusap keringat yang membasahi keningku. Semuanya jadi terasa panas karena aku tak terbiasa memakai jas juga sepatu, atau mungkin karena aku memang sedang panik, jadi muncul keringat dingin dari dahi juga telapak tanganku. Tiba-tiba aku ingat sapu tanganku ketinggalan, aku berjalan agak cepat masuk ke rumah tuk mengambil sapu tangan. Tak sengaja kakiku tersandung dan akhirnya terjatuh. Dan tak tahu mengapa rasanya begitu susah untuk berdiri lagi.
Sayup-sayup terdengar suara murottal dari kamarku, pertanda waktu subuh akan segera tiba. Ku coba untuk membuka mata, masih gelap gulita. Ah.. aku masih tidur di atas tikar dan diselimuti. Pasti ibuku yang menyelimutiku dan mematikan lampu kamarku tadi malam. Kitab yang tadi malam ku baca juga sudah tidak ada, mungkin telah dirapikan. Rasanya mata ini tak bisa ku paksa untuk bangun sebelum subuh, akhirnya ku rapatkan selimut kembali dan tidur. Hingga suara adzan pamanku membangunkanku disertai suara ibuku yang menyuruhku tuk segera bangun dan lekas ke mesjid.
Suasana masih gelap, jalanan basah sisa hujan malam hari. Di tengah perjalanan ke mesjid serasa ada orang yang berjalan di belakangku. Karena penasaran maka aku pun menoleh ke belakang. Sontak diri ini terkejut dan hati berdebar melihat gadis di belakangku yang tiba-tiba menutupi muka dengan mukenanya. Dialah Aisyah, mengingatkanku akan mimpiku malam tadi. Dan membuat diri ini senyum-senyum sendiri sepanjang jalan menuju mesjid.

PAGI KU YANG HILANG

Beberapa hari telah berlalu seperti biasa aku duduk di depan rumah sendiri. Semenjak dia pergi meninggalkanku tanpa sebab. Malam ini ditemani gemerlap bintang dan bulan aku mencoba mengingat masa itu. seakan masih belum percaya dengan yang ku alami! Dia tak lain adalah orang yang ku cintai dan ku sayangi kami sudah kenal selama lima bulan dan selama lima bulan aku sangat bahagia bisa bersamanya. Dia datang disaat hati ini sepi memberikan warna baru dalam hatiku.
Pagi ini aku dikagetkan oleh suara ketukan pintu rumahku. Tok.. Tok.. Tok! “Assalamualaikum?” Suaranya begitu merdu memecahkan rasa kantukku di pagi hari. Dengan langkah berat aku bangun dari ranjangku untuk membuka pintu rumah, ku dapati sosok perempuan manis memakai jilbab dengan senyum gigi gingsulnya dan tak lain dia adalah “Nova” kekasihku. Dengan suara agak berat karena masih mengantuk aku menjawab.
“Wallaikumsalam. Pagi-pagi kok tumben udah datang sayang?”
“Iya, gak apa-apa kan aku dateng sepagi ini soalnya aku bawain sarapan buatmu nih!”
Dengan senyumku yang bahagia aku berterima kasih pada Tuhan karena telah dipertemukannya dengannya, lalu ku persilakan masuk dia duduk di ruang tamu. Kami mulai berbincang banyak ditemani hangatnya mentari pagi hari. Tapi aku melihat ada sesuatu yang berbeda dengan biasanya wajahnya terlihat murung mulai ku tanyakan padanya.
“Yank, kamu kenapa kok murung? apa ada masalah?”
“Enggak kok gak ada apa-apa. Cuman aku agak berpikir tapi lupakanlah gak penting juga kok! hehe.” dengan senyum yang kecut dia menjawabku.
Entah mengapa hatiku seakan ragu dengan jawabannya itu, seperti ada yang berusaha dia sembunyikan dariku entah apa itu. Aku bersikeras bertanya padanya apa yang terjadi dengannya. Akhirnya dia mau menjawab pertanyaanku dengan sedikit berat. Dia mulai bercerita tentang yang dia alami, aku hanya diam mematung setelah dia bercerita rasanya sedih otakku mulai berpikir cepat.. seakan aku tak bisa berbuat apa-apa dan yang saat ini bisa ku lakukan hanyalah memberinya semangat dan doa.
KISTA, penyakit yang saat ini ada dalam dirinya. Dia bercerita tentang sakitnya itu setelah dia mengalami sakit pada bagian perutnya. Lalu dia periksa ke dokter setelah dia periksa dokter menyatakan bahwa dia terkena penyakit itu, dan itu harus segera ditangani serius yaitu operasi karena akan semakin tumbuh. Dia kemudian memelukku erat, air mata yang menetes tak mampu dia bendung. Aku pun semakin sedih dengan keadaannya saat ini aku sangat sayang dengannya apa pun akan aku lakukan demi kebahagiaannya.
“Aku, akan mengusahakan mencari uang agar kamu cepat dioperasi!”
“Tak usah.. makasih kamu doain aja. Aku gak minta kamu harus seperti itu padaku.. aku tak ingin jadi beban pikiranmu.” dengan senyumnya seakan di tak ingin aku terlalu khawatir dengan keadaannya itu.
Baiklah aku mencoba berpikir positif, Aku percaya padanya.. lalu untuk melepas kesedihannya aku mengajaknya ke luar jalan-jalan berkeliling menggunakan sepeda motorku. Setelah kami cukup puas berkeliling kami kembali. Setelah kami sampai dia berpamitan padaku untuk pulang. Aku pikir ini seperti biasa ku tatap dia menaiki motornya mulai menjauh dari pandanganku. Aku kembali dengan rutinitasku biasanya. Keesokkan harinya di pagi hari yang sama ku dengar handphone bunyi kencang.
“Tit.. Tit.. Tit,” ku buka ternyata pesan dari kekasihku.
“Sebelumnya aku minta maaf. Kita tak bisa seperti ini terus lebih baik kita jangan bertemu lagi maaf. Jika kita memang berjodoh gak akan ke mana-mana pasti suatu saat bersama lagi.”
Setelah aku membaca pesan darinya seakan tak percaya dia berkata seperti itu padaku setelah apa yang kita lalui selama ini dia meninggalkanku begitu saja. Apa yang salah denganku? Kemudian aku membalas pesan darinya dengan rasa kecewa. “Baiklaah jika itu sudah menjadi sebuah keputusannmu aku tak tahu mau gimana lagi, aku tak bisa memaksamu untuk tidak pergi mungkin itu lebih baik buatmu. Terima kasih atas semua perhatianmu padaku selama ini.” Setelah aku membalas pesannya, sampai sekarang dia tak pernah menghubungiku lagi.

SAHABAT ITU UNTUK SELAMANYA BUKAN UNTUK SESAAT

Pagi yang indah untuk 6 orang sahabat yang sedang berbincang-bincang di kantin sekolah.
“Reva ke mana kok belum datang jam segini?” ucap Febri sambil melirik jam tangan yang ada di tangannya.
“mungkin masih ada di depan kali!” jawab Pipit.
“ya mungkin dan bisa jadi!” kata Febri.
“tapi guys, akhir-akhir ini seperti ada yang aneh dengan Reva akhir-akhir ini!” ucap Anggun.
“aneh bagaimana?” kataku sambil berlagak bingung.
“ya aneh, mulai dari sikapnya ke kita, cara bicaranya ke kita semuanya tuh kayak aneh, dia nggak kayak dulu banget!” jelas Anggun.
“enggak Nggun, sebenernya nggak gitu.” ucap Tita sambil memakan stick favoritnya.
“terus gimana dong ceritanya?” tanya Anggun. “jadi gini sebenernya Reva itu marah karena kamu sama Pipit punya baju couple, tapi dia itu pengennya semua dari anggota sahabat kita itu baju couplenya itu sama.” jelas Tita.
“ya ampun, jadi hanya karena baju couple?” kata Pipit. “ya bagaimana bisa kita semua memakai baju yang sama, orang yang kemarin itu cuma tinggal 2!” jelas Anggun pada Tita. Reva datang dan langsung duduk di sebelahku.
“hai guys!” sapanya sambil tersenyum. “hai!” ucap kami semua bersamaan.
“haduhh, sorry ya aku telat ini gara-gara adikku Diyan!” ucapnya.
“kok bisa gara-gara Diyan, Rev?” tanya Pipit.
“ya iyalah tadi aku nungguin dia di depan rumahnya sampe setengah jam, eh ternyata dia udah berangkat bareng temennya gimana nggak kesel coba!” jelas Reva.
“Rev, kita mau bicara sesuatu sama kamu!” ucap Anggun. “apa?” kata Reva.
“bener kamu marah ke kita gara-gara aku pake baju couple sama Pipit?” tanya Anggun.
“nggak kok.” ucapnya sambil seolah-olah dia tak pernah memikirkan hal itu.
“aku serius, kalau kamu nggak mau jujur juga nggak apa-apa kok.” kata Anggun.
“siapa yang bilang ke kamu, Nggun?” tanya Reva. “banyak kok yang bilang kayak gitu.” ucap Anggun.
“pasti Tasya ya kan Nggun.” ucapnya sambil memandangiku dengan sinis.
“kok jadi aku sih, kamu aja nggak pernah cerita apa-apa sama aku. Kenapa jadi aku yang disalahin Rev?” kataku yang sudah mulai emosi. “ya iyalah, kamu bilang kayak gitu supaya aku nggak gabung sama kalian lagi iya kan?!” ucap Reva dengan nada tinggi.
“Rev, kalau bicara itu dipikir dulu dong jangan main ceplas-ceplos aja, kamu pikir aku ember apa?” ucapku dengan emosi yang sudah tidak bisa terbendung lagi. “kayaknya kalian semua pengen persahabatan kita cuma sampai di sini aja ya?” kata Reva. “eh Rev, persahabatan itu selamanya bukan cuma sesaat!” kata Febri yang juga sudah emosi terhadap sikap Reva yang terlalu berlebihan. “alahh, pasti itu semua cuma akal-akalan Tasya doang supaya aku ke luar dari persahabatan ini kan?” tuduh Reva lagi.
“Rev, kalau ngomong yang bener dong!” ucapku dengan nada tinggi.
“alahh, kamu kayak gini gara-gara kamu suka sama kakakku kan? kalau kamu suka sama Kak Reza ngomong aja!” ledek Reva. “Rev, ini semua nggak ada hubungannya sama Reza ya, asal kamu tahu!” ucapku.
“ya udah oke fine, aku ke luar dari persahabatan ini!” ucap Reva dan langsung pergi meninggalkan kami semua.
“Sya udah, Reva emang kayak gitu kamu tenang ya!” kata Anggun sambil menenangkan aku.
“iya aku ngerti kok, yang penting sekarang kita tahu gimana sifat Reva yang sebenernya!” ucapku sambil menenangkan diriku sendiri. “sekarang, sebaiknya kita jaga persahabatan kita, karena kita adalah sahabat selamanya bukan sahabat sesaat!” kata Febri. “setuju!” ucap kami semua hampir bersamaan.
Setelah kejadian itu akhirnya kami mengerti sebenarnya sahabat yang baik bukanlah sahabat yang selalu mengutamakan emosi dan kepentingan dirinya sendiri. Tapi sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu bisa mengerti satu sama lain dan bisa menjaga perasaan satu sama lain. Karena, “Sahabat Itu Untuk Selamanya Bukan Untuk Sesaat Saja.”

AKHIR SEBUAH MIMPI

Aku tidak tahu dari mana semua berawal. Jatuh, rapuh, kecewa, dan bahagia. Ya, itulah hidup. Ada baik ada pula yang buruk. Ada hitam dan ada yang putih. Ada manis dan ada pula yang pahit. Bayangkan apabila si manis dan si pahit saling berkolaborasi, aku yakin semua akan terasa indah. Dan terlengkapi tentunya. Bukankah semuanya diciptakan untuk saling melengkapi? Ketika jatuh, bangkitlah. Lihatlah ke depan. Masih panjang jalan yang akan dilalui. Untuk menjemput sebuah impian. Kadangkala apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh. Begitu pula yang terjadi pada diriku. Aku menyukai sastra. Menulis karangan bebas salah satunya. Apa yang salah menjadi seorang penulis? Orangtuaku meragukan itu. Menjadi penulis tidaklah mudah. Merangkai kata menjadi sebuah kalimat kemudian menyusunnya menjadi paragraf, rumit.
“Sayang, cepat keluar Mas Andra sudah menunggu!” teriak mama dari luar kamar. Satu hal yang membuatku sebal. Mendengarkan Mas Andra yang berceloteh tentang rumus-rumus fisika dan matematika membuatku sedikit frustasi. Aku tidak menyukai itu semua! “Jadi kalau soalnya begini harus memakai rumus ini. Paham dek?” tanyanya.
“Iya.” jawabku singkat. “Cukup sampai di sini pelajaran kita. By the way, besok ada acara? Makan yuk, aku yang traktir deh.” ajaknya kemudian. “Oke Mas” jawabku. Kemudian Mas Andra pamit pulang.
Rumus-rumus tersebut cukup membuatku pusing. Kuambil laptop kesayanganku kemudian mencoba merangkai banyak kata menjadi kalimat yang tepat. Entah kenapa aku sangat menyukai hal ini. Aku tidak ingin bakatku terbuang sia-sia karena menuruti kedua orangtuaku. “Anin, Mama boleh masuk?” suara ketukan pintu mengagetkanku. Mama kemudian memasuki kamarku. “Kamu ngapain sayang?” tanyanya sembari mengelus-elus rambutku. “Lagi nulis.” jawabku singkat.
“Kenapa sih kamu membuang waktumu untuk menulis hal-hal konyol? Lebih baik kamu membaca buku. Ini mama beliin kamu buku.” mama menyodorkan buku yang sedikit tebal. Tertulis di sana Pedoman Awal Kedokteran.
“Percuma Mama beliin aku buku seperti ini. Itu semuanya nganggur. Bahkan belum ku jamah sama sekali.” jawabku yang kemudian menunjuk rak buku di sudut ruangan kamarku. “Kenapa sih kamu tidak pernah mendengarkan Mama sama Ayah? Sudah merasa tidak butuh Mama sama Ayah hah?” Tanya mamaku sambil menahan gejolak dalam hatinya.
“Bukan seperti itu. Mama tolong biarin Anin sendiri,” pintaku kepada mama. Kemudian tanpa bicara sepatah kata pun mama beranjak ke luar dari kamarku. Selalu seperti ini, batinku.
Sore ini aku mengunjungi salah satu tempat makan untuk menemui Mas Andra. “Maaf telat.” ucapnya kemudian duduk berhadapan denganku. “Aku pesan minum dulu sama makan. Kamu mau pesan apa?” tanyanya sopan. “sama seperti Mas Andra saja” jawabku kemudian. Mas Andra segera beranjak untuk memesan makanan. Mas Andra, anak sahabat ayahku yang sekarang mendalami ilmu kedokteran di salah satu PTN yang ternama di kotaku.
“Dek, kalau Mas lihat kayaknya kamu tidak suka IPA ya?” tanyanya hati-hati.
“Iya memang. Tidak ada niatan untuk masuk jurusan IPA. Semua terjadi karena permintaan Mama dan Ayah. Mereka tidak menyukai bakatku. Sehingga mereka memaksaku untuk terjun pada bidang yang sama sekali tidak aku sukai” tanpa sadar aku menceritakan apa yang ku rasakan kepada lelaki ini. Sambil sesekali ku sesap jus alpukat yang dipesan Mas Andra.
“Lantas hal apa yang kamu sukai?” tanyanya balik.
“Aku suka menulis karangan, aku suka bernyanyi dan aku suka bermain piano” jawabku.
“Mamanya adek selalu bilang ke Mas kalau kamu menguasai beberapa bahasa asing. Hebat kamu!” pujinya yang membuatku tertunduk malu. “Menurut Mas kamu harus buktikan kepada mereka kalau kamu bisa membuat sesuatu yang membanggakan dari bakatmu. Seperti membuat buku. Atau mungkin kamu bisa daftar sanggar musik di kota ini. Dengan seperti itu mereka bisa paham Dek” lanjutnya panjang lebar.
“Aku takut Mas kalau pada akhirnya aku gagal. Bukan bikin bangga mereka malah sebaliknya” jawabku menunduk.
“Hei, bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu gagal? Kamu belum mencoba Dek. Percaya pada dirimu sendiri. Jadilah seperti matahari, ia tetap mengeluarkan sinarnya walaupun tidak sedikit orang yang menentangnya” ucapnya diiringi senyuman hangat. Kata-kata itu seakan menjadi suntikan sebuah semangat dalam diriku.
Ku rangkai hasil tulisanku menjadi satu kemudian aku bawa di salah satu penerbit buku di kotaku. Selain itu, aku juga mendaftar salah satu sanggar musik yang cukup ternama. Keahlianku dalam menguasai beberapa bahasa asing membuatku terdaftar menjadi guru di salah satu bimbingan belajar. Hitung-hitung kerja sambilan. Toh kerjanya juga waktu sore.
“Mama dengar kamu masuk sanggar musik? Mau jadi apa kamu? Pemusik? Atau penulis hah?” baru kali ini mama membentakku. Hal seperti ini dipermasalahkan? “Mama, apa aku harus mengorbankan impianku demi Mama?” tanyaku balik dengan mata berkaca-kaca. Air mata mendesak ingin segara ke luar. “Sekarang kamu pergi dari sini! Cepat!” bentak mama. Aku beranjak dari sofa kemudian masuk ke kamar dan memasukkan beberapa pakaian dan laptopku ke dalam tas. Hatiku hancur. Tidak pernah mama seperti ini. Mama tega. Air mata membanjiri pipiku. Kemudian ku langkahkan kaki pergi dari sini.
Sementara waktu aku menginap di rumah Mas Randy atas izin orangtuanya. Ku lihat handphone-ku dan membuka salah satu pesan. Kemudian aku tersenyum puas. “Mas Andra, bukuku siap dipasarkan. Satu hal lagi, aku diundang salah satu group orchrestra yang ternama di kota ini untuk memainkan piano solo” mataku berbinar-binar saat itu.
“Kamu hebat, Mas yakin pasti orangtuamu bangga kepadamu” ucapnya sembari mengacak-acak rambutku.
Menjadi pianis solo dalam acara ini membuat kagum para penonton. Ditambah lagi launching novel pertamaku yang berjudul Akhir Sebuah Mimpi berjalan dengan lancar. Andai mama dan ayah di sini, batinku. Ku lihat di sudut ruangan seseorang yang sangat aku kenali tersenyum bangga ke arahku.
“Semua ini aku persembahkan untuk Mama dan Ayahku,” ucapku di depan panggung. Air mata kembali menetes. Kemudian aku menuruni panggung dan berjalan ke arah mereka. “Maafkan Mama dan Ayah sayang” ucapnya kemudian memelukku.
Bahagia menyelimutiku saat ini. Impianku dan kasih sayang orangtuaku telah berpihak kepadaku. Dari jauh ku lihat seorang lelaki memakai jas mengacungkan dua jempol ke arahku dan tersenyum hangat. Terima kasih Mas Andra, batinku.